Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Tengkes di Ibu Kota Kabupaten PPU Bertambah  

Azwar Halim • Selasa, 14 November 2023 | 17:00 WIB
Made Yoga Sudharma  Kepala OJK Kaltim
Made Yoga Sudharma Kepala OJK Kaltim
PENAJAM - Jumlah anak stunting (tengkes) di Ibu Kota Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), yaitu Kecamatan Penajam, mengalami kenaikan. Data Februari 2023 jumlah anak yang mengalami gangguan pertumbuhan berusia 0-59 bulan itu di daerah ini tercatat 259 anak, dan jumlah ini diestimasikan terjadi kenaikan pada akhir tahun ini.

“Diperkirakan terjadi kenaikan jumlah anak yang mengalami stunting walaupun tidak signifikan, meski memang naik,” kata Ahli Gizi Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Penajam, PPU Naidah, saat ditemui koran ini di ruang kerjanya, Senin (13/11).

Ia menguraikan, kendati tak menyebut angka pasti kenaikannya, data yang saat ini tersedia itu bukan gambaran dari jumlah anak tengkes secara keseluruhan. Alasannya, data yang dicatat oleh petugas bergantung kepada tingkat jumlah kedatangan orangtua anak pada saat jadwal penimbangan bayi di bawah lima tahun (balita) pada tiap-tiap pos pelayanan terpadu (posyandu).

“Kalau kunjungan orangtua balita ke posyandu mencapai 100 persen yang stunting bakal diketahui banyak,” ujarnya.

Kategori balita mengalami tengkes, urai dia, yaitu salah satunya ukuran badannya pendek dan sangat pendek dalam pengertian tidak sesuai pertumbuhan tinggi badannya itu dibandingkan pada umur balita. Upaya untuk mengatasi tengkes ini, lanjut dia, Puskesmas Penajam melakukan pemberian makanan tambahan (PMT), termasuk kepada balita yang mengalami gizi kurang.

“Menunya berupa kudapan, seperti bubur, kuning telur, dan lain-lain yang diberikan pada setiap hari. Saat ini, terdapat 133 anak yang diberi PMT,” tuturnya.

Berkaitan dengan menu PMT ini sebelumnya, Kaltim Post menerima protes sejumlah orangtua yang anaknya mendapatkan menu tersebut. Mereka mengungkapkan, balita yang rata-rata baru belajar makan itu diberi menu PMT, seperti soto dan rawon.

“Ya, jelas itu tidak cocok untuk balita. Akibatnya, menu diperuntukkan balita tetapi akhirnya yang makan malah orangtuanya. Bagaimana mungkin balita diberi makan soto yang dagingnya keras,” kata orangtua balita yang tinggal di Kelurahan Gunung Seteleng, Penajam, PPU.

Terkait hal ini, Naidah kemarin mengatakan, menu yang disajikan melalui PMT itu masih memerlukan kreativitas orangtua balita. Misalnya, tentang daging yang dianggap keras itu, di antaranya, bisa diolah menjadi lebih lembut dengan upaya diblender.

“Kalau keras bisa diblender dagingnya atau diolah lagi. Jadi, warga harus kreatif bagaimana caranya anaknya bisa menikmati menu PMT agar balita semakin sehat,” tuturnya.

Masalah tengkes ini menarik perhatian Sekretaris Kabupaten (Sekkab) PPU H Tohar. Menurut dia, stunting disebabkan rendahnya asupan gizi selama seribu hari pertama kehidupan, dari janin hingga usia dua tahun. Kurangnya fasilitas sanitasi, akses terhadap air bersih, dan sanitasi lingkungan juga dapat menyebabkan tengkes.

Tak hanya Tohar, Penjabat (Pj) Bupati PPU Makmur Marbun yang bertugas belum genap dua bulan juga memberi perhatian serius terhadap persoalan tengkes ini. Dia menginginkan dalam menekan angka tengkes di PPU tak hanya melalui strategi memberi asupan makanan bergizi, tetapi sudah harus dilakukan sejak dini, yaitu ketika pasangan akan menikah, ibu mengandung hingga proses melahirkan. (far/k15/jnr)

 

 

 

  Editor : Azwar Halim
#penajam #kaltim