Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Winda Novitasari, Perancang Busana Tunarungu

Azwar Halim • Jumat, 28 Agustus 2020 | 13:47 WIB
winda-novitasari-perancang-busana-tunarungu
winda-novitasari-perancang-busana-tunarungu

Keterbatasan fisik, bukanlah menjadi penghalang Winda Novitasari, wanita tunarungu berumur 25 tahun asal  Nunukan. Itu dibuktikan dengan bisa menjadi seorang perancang busana dan punya usaha hingga berpenghasilan.


RIKO ADITYA


WINDA panggilan akrabnya, memang sejak lahir menderita gangguan pendengaran tingkat berat. Itu diungkapkan langsung orang tuanya Barcene, saat ditemui di kediamannya di Jalan Kampung Tator, Nunukan Tengah, Nunukan.


Winda sendiri telah melalui pengobatan medis hingga ke luar daerah. Bahkan, pernah menggunakan alat bantu pendengaran. Namun, ternyata itu tidak cukup  membantu, malah mengganggu aktivitasnya.


“Kalau komunikasi, Winda hanya bisa membaca bahasa bibir, kita harus sempurna mengeluarkan ucapan atau disertai isyarat tangan, dia pasti mengerti,”  ujar Barcene ketika diwawancarai, Kamis (27/8).


Keahlian merancang busana Winda, diakui ibunya datang secara autodidak. Sejak kecil Winda memang sering dibawa ke toko penjahit. Saat itu, Winda suka mengumpulkan kain bekas untuk diaplikasikannya menjadi sesuatu.


Saat sekolah di jenjang pendidikan TK, Winda memang gemar mendesain baju. Kegemarannya tersebut sering membawanya juara desain hingga dirinya duduk di bangku SD kelas III. Sayangnya, sampai kelas V, Winda pun harus disekolahkan di sekolah luar biasa (SLB).


“Pernah kami sekolahkan di 3 sekolah SLB, tidak pernah nyambung, dia pulang dan mengaku bukan anak yang cacat fisik. Akhirnya kami perjuangkan dia tetap sekolah di SD normal,” tambah Barcene.


Pada akhirnya, Winda masuk sekolah di SD hingga selesai di SD Katolik di Nunukan. Di sana, Winda memang sudah mengetahui keadaan sekolah tersebut. Sekolah itu juga tahu keadaan Winda dan bisa menerimanya. Winda akhirnya sekolah hingga lulus SD, meskipun tidak maksimal karena terkendala komunikasi.


Melanjutkan sekolahnya, Barcene bertemu dengan seorang pendeta yang merekomendasikan Winda untuk sekolah di salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Wonosobo, Jawa Tengah. Di Sekolah itu adalah SLB percontohan di Indonesia. Di sana pemerintah sangat memperhatikan sekolah tersebut. Didikan sekolah itu, memastikan anak yang lulus dari sekolah bisa mandiri. Winda PUN lulus dengan keahlian menjahitnya hingga kelas SMP B-1, atau setara sekolah menengah atas (SMA) kelas I.


Setelah itu, Winda akhirnya pulang ke Nunukan. Saat itulah Barcene memutuskan mendukung Winda. Barcene membelikan Winda peralatan menjahit.  Tak berselang lama, Winda berkreasi hingga bisa menjadi perancang busana. Winda pun akhirnya membuka toko menjahit. Winda bahkan sering menerima orderan dari masyarakat Nunukan.


Memanfatkan keahliannya menghadapi pandemi Covid-19, Winda sendiri pernah membuat seribu masker untuk dibagikan kepada orang yang membutuhkan di Nunukan. Winda bahkan mendatangi rumah-rumah orang yang memang sangat membutuhkan masker. Pernah juga sesekali berkeliling.


“Saat pembagian masker, Winda sekalian memberikan edukasi kepada warga untuk sadar akan penggunaan masker dalam pandemi Covid-19 saat ini. Jadi Winda mengedukasi warga dengan ngomong sambil menggunakan pergerakan tangan atau bahasa isyarat,” ujar ibu 3 anak ini.


Kesadaran itu dilakukan atas inisiatif Winda sendiri. Winda memang aktif di media sosial. Segala sesuatu yang terjadi di dunia maya, sudah pasti juga diketahui Winda. Melalui inisiatifnya, Winda sendiri membangun rumah kreatif tunarungu Nunukan. Sejumlah anak tunarungu, dikumpulkan Winda untuk diajarkan keahlian merancang busana dan menjahit. Winda rela mencari anak-anak tunarungu hingga ke daerah jauh sekalipun demi menyalurkan keahliannya.


“Sayasgnya rumah itu sudah vakum, anak-anak sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Semoga orang tua mereka bisa mendukungnya kembali, itu juga demi masa depan mereka, niat anak saya baik membagi ilmunya kepada mereka, supaya masa depannya baik,” harap Barcene.


Dalam usahanya, Winda memang berpenghasilan. Winda bahkan membeli mobil dan sepeda motor dari hasil kerja kerasnya sendiri. Barcene mengaku, dari hasil kerjanya saat waktu normal (sebelum pandemi), penghasilan Winda bisa mencapai belasan juta rupiah setiap bulannya. Saat ini, karena terkendala pandemi Covid-19, penghasilan Winda sedikit menurun.


Winda pun memanfaatkan waktu luangnya dengan mengikuti sejumlah kegiatan di medsos. Sejauh ini, kegiatan yang dilakukan Winda dalam pandemi, seperti mengikuti lomba bahasa isyarat Indonesia. Winda ikut sebagai peserta dan diakuinya sudah dalam masa penilaian sejak tanggal 25 lalu. Winda mengirimkan video bernyanyi dengan isyarat memperkenalkan tempat-tempat di Nunukan secara berpindah-pindah. (***/lim)


 


 


 


 

Editor : Azwar Halim