Pernah dengar Indonesia gudangnya kuliner? Ya, Indonesia tak hanya kaya akan keragaman suku dan budayanya saja. Tetapi juga kaya akan jajanannya yang beraneka rasa. Makanya tak heran, di setiap daerah, selalu saja ada kuliner yang menjadi ciri khasnya.
Tidak hanya masakan. Tetapi juga kue-kue atau jajanan tradisional khas Indonesia. Apalagi masih diolah dengan cara tradisional, tetap mempertahankan autentiknya.
Semakin canggihnya teknologi, banyak pula inspirasi dan temuan kuliner yang lebih tren. Namun, tak bisa dipungkiri, hingga sekarang ini pun kue zaman dahulu alias jadul masih tetap bertahan.
Nah, tetap bertahannya kue jadul ini tergantung lagi dari penerusnya. Setidaknya, dari generasi ke generasi, ada tangan yang bisa membuat kue tradisional ini. Jajanan tradisional dapat dikatakan susah-susah gampang loh.
Apalagi yang pembuatannya masih tergolong tradisional. Misalnya saja masih menggunakan tungku dan belanga yang terbuat dari tanah liat. Jajanan tradisional ini pun tak dapat bertahan lama, mengingat masih tergolong kue basah.
Pemilik Warung Acil Nonon, Nur Islamiah mengatakan, beberapa kue jadul yang ia buat, seperti tiwul ini paling lama dapat bertahan dua hingga tiga hari lamanya. Itu pun karena teksturnya yang agak kering. Namun beberapa kue lainnya, seperti cenil, lupis, kokoleh, putu mayang dan serabi, paling tidak hanya bertahan satu hari. Apalagi yang terbuat dari santan.
Maklum, jajanan tradisional masih banyak menggunakan siraman gula merah, yang dipadukan dengan santan kelapa. “Kalau tiwul masih bagus sampai tiga hari,” ujar wanita berusia 50 tahun ini.
Bahan-bahan yang digunakan pun tergolong sangat sederhana dan mudah dijumpai di pasaran. Tak tanggung-tanggung, ia mampu menyelesaikan meski baru ada permintaan. Tentunya ia ingin tetap mempertahankan warisan jajanan tradisional ini. Agar tak lekang oleh waktu.
“Gampang saja, sederhana. Biasa buat di warung saja, karena cepat selesai. Kalau sekarang kue modern sudah banyak. Tapi kue jadul, hanya beberapa yang buat,” kata pemilik akun Facebook Warung Acil Nono. (*/one/fly)
Editor : Azwar Halim