Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Renyahnya Kudapan Khas Tidung

Azwar Halim • Jumat, 21 Desember 2018 | 10:12 WIB
renyahnya-kudapan-khas-tidung
renyahnya-kudapan-khas-tidung

Aneka makanan tentunya wajib disajikan saat ada acara. Entah itu perayaan ulang tahun, anniversary, selamatan, syukuran, nikahan, keagamaan dan perayaan besar lainnya.


Nah, baru-baru ini Kota Tarakan berulang tahun yang ke 21 tahun, tepatnya 15 Desember kemarin. Untuk merayakannya, kebudayaan Kalimantan Utara (Kaltara) ini pun lebih ditonjolkan. Mulai dari keseniannya hingga kudapan tradisional alias khas dari provinsi termuda ini.


Berbicara mengenai kudapan, tentu sangat beragam. Setiap daerah di jagat raya Indonesia ini, mempunyai makanan khasnya sendiri. Di Kalimantan Utara, juga beragam kudapannya. Salah satunya dari khas Tidung.


Owner Inan Tanis, Jerniati menerangkan makanan khas Tidung ini sangat beragam. Tak hanya makanan berat, tetapi juga kudapannya yang bervariasi. Pada kesempatan ini, ia pun memperkenalkan beberapa kudapan khas Tidung ini. Tentu menjadi kebanggaan tersendiri dapat melestarikan kebudayaan asalnya, salah satunya kue mura.


Sekilas mengenai kue murai, bahan utamanya dari beras ketan yang ditambahkan kelapa dan gula. Zaman baheula, gula yang digunakan berupa gula putih. Seiring perkembangan zaman, diinovasikan pula dengan gula merah. Sehingga warnanya tak hanya warna putih, tetapi juga kemerah-merahan.


“Jadi kue mura ini ada dua macam. Orang tua zaman dahulu dikasih gula putih saja. Tapi sekarang ada pakai gula merah. Kue mura ini sudah saya kenalkan ke masyarakat. Sudah terdaftar dan mendapatkan izin edar,” terang wanita kelahiran Tarakan, 17 Juli 1968.


Biasanya pembuatan kue tradisional mempunyai tingkat kesulitannya sendiri. Beras ketan yang ditiriskan dan disangrai hingga merah alias matang selama kurang lebih 30 menit.


“Buang batunya, berasnya dicuci bersih dan saring sampai kering. Disaring sampai merah, baru kita giling. Harganya juga Rp 15 ribu,” tutupnya. (*/one)

Editor : Azwar Halim