MALINAU - Hal ini disampaikan ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Malinau Thomas Lasminto saat menyampaikan laporannya di acara pagelaran seni budaya Tionghoa di Arena Pelangi Intimung, Selasa (22/10).
“Warna merah tidak sekedar cantik, tapi mempunyai arti dan makna sukacita. Kami bersukacita dengan dilaksanakannya Irau ini karena dapat menumbuhkan rasa cinta kepada kebudayaan kita,” ungkapnya.
Dulu, bahkan sampai saat ini suku Tionghoa selalu disebut suku Cina. Namun sejak bulan Februari 2014 melalui Peraturan Presiden nomor 12 tahun 2014 sebutan Cina diubah menjadi Tionghoa dan merupakan salah satu etnis yang diakui dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki hak dan kewajiban yang sama.
Contohnya sampai hari ke-9 pelaksanaan Irau banyak sekali pengunjung yang melintasi stan Tionghoa masih menyebut “oh ini stan Cina”. “Tetapi saya mencoba memberikan mereka pengertian bahwa sekarang sebutan Cina sudah diubah menjadi Tionghoa,” ucapnya.
Paguyuban Tionghoa menampilkan atraksi Liong dan Barongsai yang memiliki filosopi yang luar biasa yang menurut keyakinan mereka dapat mengusir gangguan mahluk halus yang ada didalam rumah.
Setelah menyaksikan atraksi Liong dan Barongsai Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si tidak bisa berkomentar apa-apa karena seni ini sudah dikenal secara internasional. “Yang lebih penting adalah penampilan paguyuban Tionghoa Malinau yang sangat luar biasa, tepuk tangan untuk warga Tionghoa Malinau,” ujarnya diikuti tepuk tangan para tamu undangan.
Bupati Yansen mengapresiasi semangat persatuan dan kesatuan warga Tionghoa Malinau. Irau tahun ini sesuai dengan temanya “Budaya Membangun Bangsa” diharapkan dapat merajut persatuan dan kesatuan semua etnis, lembaga dan paguyuban yang ada di Malinau.
Bupati mengucapkan terima kasih kepada Persatuan Barongsai Tarakan yang telah datang dan menampilkan atraksinya. Walaupun berasal dari kota Tarakan kita turut bangga karena mereka telah mewakili Provinsi Kalimantan Utara di event-event nasional dan mendapat juara.
Bupati berharap kedepannya Malinau juga mempunyai Barongsai sendiri yang tentunya didukung oleh pengusaha-pengusaha Tionghoa yang ada di Malinau. Bupati Yansen juga menanggapi laporan dari ketua paguyuban tentang sebutan Cina. Menurutnya sebutan Cina mengarah kepada negara, tapi warganya adalah Tionghoa. “Jadi mulai sekarang singkirkan sikap rasis terhadap etnis bangsa yang lain. Semua mempunyai hak dan perilaku yang sama di Bumi Intimung ini. Mari kita bersemangat, bersukacita dan bersatu padu membangun Malinau dengan budaya kita masing-masing. (hms/fly)
Editor : Azwar Halim