Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Suguhkan Tarian Perjuangan Melawan Penjajah

Azwar Halim • Jumat, 19 Oktober 2018 | 12:40 WIB
suguhkan-tarian-perjuangan-melawan-penjajah
suguhkan-tarian-perjuangan-melawan-penjajah

Berbagai jenis tarian dipersembahkan pada perayaan Irau ke-9 dan sekaligus merayakan ulang tahun ke-19 Kabupaten Malinau. Salah satu tarian yakni The Spirit of Dayak Warrior. Tarian ini memukau masyarakat dengan atraksi yang dilakukan putra-putri Dayak.


YUSTINA LUMBAA


MENCERITAKAN sejarah perjuangan nenek moyang dalam menghadapi penjajah, The Spirit of Dayak Warrior dipersembahkan untuk mengenang perjalanan panjang masyarakat Dayak terdahulu dalam perang melawan Jepang. Spirit suku Dayak untuk membangun Indonesia sangat luar biasa, sehingga ditampilkan dalam Irau, agar masyarakat dapat mengetahui setiap perjuangan orang-orang terdahulu. Tarian ini dilakoni para siswa-siswi SMAN 8 dan SMAN 1 Malinau yang berjumlah 38 orang, terdiri dari penari dan pemain musik.


Persiapan dilakukan selama 8 bulan, karena memiliki banyak gerakan dan atraksi yang cukup sulit dilakukan. Dari semua properti yang digunakan menampilkan budaya adat Dayak. Meski begitu, juga menampilkan budaya Dayak modern di beberapa kostum yang dikenakan penari. Irau merupakan fesvifal budaya adat, sehingga ditampilkan nuansa adat Dayak berupa perjuangan melawan para penjajah.


Konsep tarian ini lebih kepada nuansa perkampungan Dayak, yang tiba-tiba mendapatkan serangan dari para penjajah. Dimulai dari tokoh utama yang harus bertarung dengan orang-orang Jepang menggunakan alat-alat seadanya dan masih sangat tradisional. Berbeda dengan Jepang yang menggunakan senjata api untuk menyerang.


Hanya menggunakan berbagai senjata tradisional dan masih belum modern, sehingga suku Dayak mendapatkan kekalahan. Dari kekalahan itu para suku asli Dayak merasakan kesedihan yang luar biasa, bahkan kekalahan itu harus memakan korban yakni tokoh pejuang. Tokoh utama yang digambarkan dalam tarian harus merasakan sakit dan akhirnya meninggal dunia.


“Sehingga ada nuansa kesedihan yang mendalam akibat perang melawan penjajah. Itu juga kami tampilkan sesuai dengan sejarah yang ada,” ungkap Heru Prasetio, sang pelatih tari.


Tetapi perjuangan tidak sampai di situ saja, para nenek moyang kembali berjuang dan bangkit dalam memperoleh kebebasan dan kemerdekaan. Kemudian tumbuh kembali salah satu pejuang yang membangkitkan semangat masyarakat Dayak dalam memperebutkan kebebasan.


Selain penampilan adat, juga disuguhkan atraksi colour guard dalam marching band. Sehingga tidak hanya ada unsur tradisional saja, melainkan juga terdapat unsur modern. Percampuran antara sejarah perjuangan suku Dayak dengan atraksi colour guard disatukan menjadi tarian yang luar biasa. “Saya bangga dengan mereka, karena awalnya sangat sulit melatih karena banyak atraksi yang harus dilakukan,” ujarnya.


Dirinya berharap dengan suguhan tarian yang dilakukan putra-putri Dayak ini dapat membawa tujuan positif atau pengetahuan bagi masyarakat tentang perjuangan para pendahulu. Bagaimana masyarakat bersatu membangun Malinau dan Indonesia serta mempertahankan perjuangan. “Agar mereka bisa merasakan bagaimana perjuangan yang dilakukan harus dengan sungguh-sungguh. Meski jatuh, harus tetap bangkit lagi,” tuturnya.


Salah satu penari  yang berperan menampilkan colour guard, mengaku senang dilibatkan dalam tarian perjuangan suku Dayak melawan Jepang. Saat melakukan tarian ini, dirinya merasakan betul perjuangan melawan penjajah yang masuk ke tanah Dayak.


Dengan turut serta berpartisipasi dalam tarian ini, dirinya juga ikut melestarikan budaya Dayak. Nilai perjuangan yang tak boleh ditinggalkan yakni, kemenangan itu membutuhkan perjuangan, meski mendapatkan kesulitan dan kekalahan, tetapi dengan berjuang dan terus bangkit maka bisa mendapatkan kebebasan. “Menari di depan orang banyak, memperkenalkan perjuangan nenek moyang itu sungguh luar biasa. Sejak dini sudah harus mengenal dan melestarikan budaya yang ada. Jadi saya bangga,” pungkasnya. (***/lim)

Editor : Azwar Halim