MALINAU - Seringkali dalam kegiatan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar-pasar atau toko-toko, petugas gabungan dari instansi terkait menemukan barang dagangan yang telah melewati kedaluwarsa. Ternyata, selain bahaya langsung bagi yang mengonsumsi, juga berbahaya bagi janin di dalam perut ibu yang sedang hamil (bumil).
Terkait bahan makanan yang dikonsumsi sudah kedaluwarsa, Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Malinau dr. John Felix Rundupadang, MPH menjelaskan, efek makanan kedaluwarsa kalau secara tidak sengaja masih dibeli dan digunakan masyarakat, yang paling mudah terjadi adalah gangguan pada saluran pencernaan.
“Biasanya mulai dengan sakit perut, berlanjut mual muntah sampai diare dan sembelit. Sembelit itu usus jadi terputar dan kalau itu pada skala yang sangat berat, bisa harus dioperasi karena terjadi sumbatan pada saluran pencernaan kita,” jelas dr. John Felix Rundupadang saat wawancarai pewarta secara khusus usai inspeksi mendadak (sidak) dengan instansi terkait lainnya di Pasar Induk Kabupaten Malinau, Rabu (30/5).
Selain sakit perut pada orang umumnya, hal lain yang paling ditakutkan, kata dokter yang suka menggunakan peci hitam dan peci motif Dayak ini, jika makanan kedaluwarsa dikonsumsi oleh ibu hamil. Karena, ibu hamil masih menyuplai makanan melalui plasentanya ke bayi dan jika bayi mendapatkan nutrisi yang meracuninya tentu akan sangat mengganggu dalam proses tumbuh kembang si bayi dalam kandungan.
Saat ditanya apakah bisa terjadi kecacatan pada bayi saat dilahirkan nantinya, dr. John tidak menepis bisa saja itu terjadi apabila beberapa kali secara tidak sengaja mengonsumsi. “Bisa, bisa saja kejadian kecacatan itu muncul. Apalagi kalau dalam jumlah yang tanpa disadari terus menerus dikonsumsi tanpa melihat waktu kedaluarsa dari bahan makanan itu. Tapi biasanya sih ibu-ibu satu dua kali langsung kaget oh rupanya sudah kedaluwarsa, karena ibu-ibu juga terbiasa melihat (tanggal kedaluwarsa) ini di rumah,” katanya.
Pewarta pun menanyakan, misalkan ada warga yang keracunan akibat mengonsumsi makanan kedaluwarsa, bagaimana cara mengatasi atau memberikan pertolongan pertama sebelum dibawa ke dokter? Menurutnya, yang paling mudah untuk menetralisir biasanya minum susu atau minum air kelapa. Karena susu dan air kelapa bisa menetralisir keadaan sebelum di bawa ke dokter.
Ia pun tidak menyarankan masyarakat yang keracunan makanan kedaluawarsa meminum obat-obatan anti alergi, karena biasanya dengan mengonsumsi obat-obatan anti alergi tanpa resep dokter atau petugas kesehatan lainnya, ditakutkan bisa memberi reaksi yang berlawanan pada saat awal ditangani.
“Makanya yang kita lakukan adalah secara mekanis saja dengan minum. Biasanya dengan minum air sebanyak-banyaknya otomatis akan merangsang muntah, sehingga pada fase awal sebelum makanan itu terus ke saluran usus kecil terus ke usus besar, tapi kan penyerapan terjadi di usus kecil itu sudah dikeluarkan dari lambung,” ujarnya.
Sementara, untuk bumil, ia menyarankan agar secepatnya dibawa ke Puskesmas, Klinik Kesehatan dan Rumah Sakit secepatnya. “Untuk ibu hamil, segera dibawa ke dokter untuk dievaluasi bagaimana kondisi ibu itu, termasuk mengevaluasi apakah ada gangguan pada janinnya. Biasanya yang terjadi adalah frekuensi denyut jantung daripada bayi itu akan mengalami peningkatan untuk kemudian itu yang perlu kita evaluasi,” tegasnya.
Ditanya apakah selama ini ada pernah laporan atau pasien yang ia ketahui pernah mengalami keracunan makanan kedaluarsa di Malinau? Kepala Dinas Kesehatan yang sebelumnya pernah bertugas di Kabupaten Bulungan ini mengatakan belum pernah terjadi dan berharap tidak pernah terjadi di Malinau.
“Kalau kita di sini, belum. Belum ada info seperti yang diekspos di tv, di koran dalam skala yang meresahkan masyarakat, tapi kalau menemukan seperti barang-barang kedaluarsa ya sering diinformasikan. Tapi kita bersyukur bahwa masyarakat kita semakin sadar, semakin aware bahwa ketika dia membeli, dia memperhatikan dulu, termasuk ketika mereka memasak dia cek dulu apakah kedaluwarsa bumbu-bumbu cepat saji atau makanan lainnya yang mereka gunakan,” pungkasnya. (ags/fly)
Editor : Azwar Halim