TEMPAT ibadah yang berada di Tarakan saat ini cukup banyak dan bisa menjadi lokasi wisata. Sebagi tempat beribadah, desain dan struktur bangunan pasti dibuat kokoh dan megah karena akan digunakan untuk orang banyak dan dalam jangka waktu lama.
Salah satunya, rumah ibadah umat Hindu, Pura Giri Jagat Nata yang terletak di Jalan Asparagus RT 57 wilayah Pasir Putih, Kelurahan Karang Anyar. Pura ini resmi digunakan tahun 1994 masih berdiri kokoh hingga kini. Pencetusnya berasal dari aspirasi umat Hindu membangun pura secara bergotong royong. Pura ini menjadi satu-satunya yang ada di Tarakan. Dan hampir 30 tahun berdiri.
Jika lokasi rumah ibadah berada di tengah keramaian, berbeda dengan rumah ibadah Pura Giri Jagat Nata ini. Lokasi pembangunan pura sengaja dididirkan di area tertutup. Dan dirancang di alam yang terbuka serta dikelilingi oleh tembok-tembok dan dipagar.
Dari sisi bagian desain, pura pada umumnya memiliki tiga mandala atau tiga bagian dalam satu lokasi. Yakni mandala pertama berada di lantai paling bawah atau jabosisi. Lalu mandala kedua atau madya mandala serta ketiga, mandala utama di lantai teratas yang merupakan tempat ibadah inti.
“Di Tarakan, tetap menggunakan konsep trimandala, ada juga yang karena berbagai kondisi hanya menggunakan dua mandala saja,” kata I Nyoman Simpen, sang Pinandita (pemimpin umat Hindu) Pura Giri Jagat Nata.
Bangunan-bangunan yang berada di pura memiliki tiga lantai. Untuk lantai pertama yang disebut jabosisi terdapat bangunan wantilan atau balai serbaguna. Untuk lantai kedua sendiri atau yang biasa disebut mandala madya saat ini belum ada bangunan sama sekali. Sedangkan lantai ketiga yakni puncaknya saat ini memiliki bangunan yang sudah lengkap.
“Berbicara tentang pura, ketiga lantai ini ada bangunannya. Di Tarakan sendiri memang memiliki tiga lantai, tetapi khusus lantai kedua tidak ada bangunannya. Sedangkan lantai ketiga sudah lengkap,” ujar I Nyoman Simpen saat ditemui Tim Griya Radar Tarakan, Selasa (20/3).
Untuk lantai tiga atau utama memang sangat lengkap. Sebelum masuk ke lantai utama maka di kiri kanan ini ada dua buah bangunan kecil yang disebut sebagai apit lawang. Apit sendiri artinya membatasi kiri dan kanan, sedangkan lawang yakni pintu. Di lantai ketiga ini sendiri juga memiliki tiga pintu, satu pintu utama yang besar, dikiri dan kanan lebih kecil.
Kalau bukan hari ulang tahun pura atau piodalan, maka pintu utama tidak akan pernah dibuka. Sehingga umat selalu menggunakan pintu yang kecil untuk membudayakan diri agar antri dan tahu akan aturan dan sopan santun. Tetapi memang umat selalu masuk lewat pintu sebelah kiri karena diyakini lebih bagus, walaupun memang boleh saja masuk lewat kanan atau kiri.
“Walau kiri kanan bisa dimasuki, tetap saja lewat sebelah kiri lebih bagus lagi,” ucapnya.
Untuk pintu utama sendiri hanya akan dibuka jika hanya saat hari piodalan saja, karena kaitannya pada saat puncak ritual itu ada ngebejiang yang artinya menyucikan peralatan suci yang ada di dalam pura dan disakralkan dengan ritual maka pintu tengah baru akan dibuka. Tetapi setelah ritual berakhir akan langsung ditutup kembali.
“Karena kami menganggap itu sangat sakral sekali, sehingga hanya boleh melewati pintu sebelah kiri saja untuk memasuki lantai ketiga,” ujarnya.
Melewati tiga pintu, maka akan ditemukan pembatas atau dinamakan aling-aling yang bisa diartikan jika air mengalir maka tidak langsung mengalir begitu saja, tetapi dipecah. Jika telah melewati pintu dan aling-aling, maka sebelah kanan akan terdapat bangunan utama sebanyak tiga buah. Yang paling besar bernama padmesana, sebelah kanan bernama penglurah, dan sebelah kiri yang berbentuk kayu disebut sanggah surya.
Padmesana merupakan bangunan inti dari pada pura ini dan sifatnya multi karena dalam ajaran agama Hindu itu mengenal banyak hari suci atau sebutan dewa maka pada saat hari tertentu akan ada dewa tertentu yang dihadirkan.
“Jadi memang tempat itu multi, walaupun pada dasarnya Tuhan adalah satu, tetapi saktinya atau manifestasinya pada saat itu dominan pada dewa tertentu,” jelasnya.
Untuk penglurah sendiri merupakan wujud sebenarnya untuk menghormati kepada pendahulu atau pendiri lingkungan. Sedangkan sanggah surya berarti bersaksi kepada surya, atau mataharinya matahari. Lalu jika berada di depan aling-aling, maka akan ditemukan bale piasan. Sebelah kiri dari aling-aling maka akan ditemukan balai pawedan yang berfungsi sebagai tempat dari pada upacara dalam hal ini ialah pandita untuk memimpin doa.
“Jadi memang pura ini telah berdiri cukup lama dan merupakan satu-satunya pura di Kota Tarakan,” pungkasnya. (*/naa/zia)
Editor : Azwar Halim