Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Ulin dan Lembasung Lebih Awet

Azwar Halim • Sabtu, 6 Januari 2018 | 10:44 WIB
ulin-dan-lembasung-lebih-awet
ulin-dan-lembasung-lebih-awet

BERBICARA masalah hunian, salah satu hal penting yang tidak dapat dipisahkan yakni bahan bangunan. Jika hanya asal jadi, dipastikan tidak akan bertahan lama dan akan mudah rapuh. Pemilik rumah tentu juga memikirkan sebuah harga, tetapi jangan sampai di bawah dari harga pasaran yang ada, karena akan dipastikan lebih banyak risikonya apabila tidak sesuai.


Bahan bangunan sendiri ada berbagai macam, mulai dari batu, pasir, semen, keramik lantai, kayu sampai kepada atap. Jika tidak sesuai maka akan membuat bangunan tidak tahan lama. Untuk bahan rumah rata-rata pengusaha properti menggunakan kayu meranti untuk standar pembuatan perumahan.


“Rata-rata memang untuk perumahan menggunakan kayu meranti,” ujar Fernando, salah satu pengusaha properti di kota ini.


Berbeda dengan rumah pribadi atau komersial, untuk saat ini karena kebanyakan untuk perumahan yang komersil sudah menggunakan baja ringan yang keras. Kalau bahan yang sering dipakai memang kayu meranti dan untuk kosen sendiri menggunakan kayu lembasung untuk wilayah Tarakan.


“Kayunya memang berbeda, satu jenis tidak digunakan untuk semua bangunan,” ujarnya.


Sementara untuk wilayah lain seperti Kalimantan Selatan, yang dipakai yakni kayu ulin yang memang berkualitas tinggi.  Karena memang untuk wilayah itu kayu ulin masih terjangkau, baik dari segi harga maupun habitatnya.


“Kalau Tarakan itu menggunakan lembasung, habitat kayu kan berbeda. Juga dilihat dari segi harga yang ada, kalau langka pasti mahal,” ungkapnya.


Tetapi memang untuk kayu lembasung sendiri sudah cukup langka di Tarakan, karena banyak digunakan untuk pembuatan kosen jendela atau daun pintu. Kelebihan kayu lembasung hampir menyamai dengan tekstur kayu ulin tetapi kualitasnya berada di bawah kayu ulin.


“Tetapi untuk kekuatannya, kayu ini cukup tahan dan kuat. Karena kayu itu dilihat juga dari kekuatannya, semakin kuat semakin mahal,” ujarnya.


Untuk Tarakan, kayu lembasung ditaksir mencapai harga Rp 3,5 juta per kubiknya. Sedangkan untuk kayu ulin sendiri harganya cukup fantastis, per kubiknya bisa mencapai Rp 6 juta. Hal ini memang untuk Tarakan kayu ulin juga cukup langka dan sangat kuat dengan kualitas kayu nomor satu.


“Kalau untuk Kalsel itu masih murah, karena memang banyak masih di sana,” ungkapnya.


Sedangkan keunggulan dari kayu meranti yakni berwarna merah dan kayu ini juga kuat dan keras, tetapi mudah dibentuk. Kayu ini juga cukup awet dan tahan lama, tetapi tidak dapat digunakan di luar ruangan. Kayu meranti sendiri juga masih cukup banyak di Tarakan.


“Yang langka itu memang kayu lembasung, jadi harganya juga cukup mahal,” pungkasnya. (*/naa/lim)

Editor : Azwar Halim