MALINAU - Pelatihan membatik di Kabupaten Malinau menjadi kesempatan bagi warga Malinau secara khusus bagi etnis dan masyarakat adat untuk mengenal teknik dasar sekaligus membuka wawasan dalam mengembangkan karya batik yang mengangkat kekayaan budaya Bumi Intimung Malinau.
Kesempatan tersebut dimanfaatkan Jenny Astuti, salah satu peserta dari etnis Dayak Lundayeh, yang mengikuti pelatihan selama sepekan. Berawal dari belum pernah membatik, Jenny kini berhasil menghasilkan dua karya dengan teknik yang berbeda.
Perempuan berusia 29 tahun yang sehari-hari berprofesi sebagai ibu rumah tangga itu mengaku tertarik mengikuti pelatihan karena ingin mempelajari sesuatu yang sebelumnya belum pernah dilakukannya.
“Karena saya belum pernah mengikuti kegiatan, karena saya belum pernah membatik, jadi saya tertarik untuk ingin belajar membatik. Itu motivasi saya,” ujar Jenny saat diwawancarai Radar Tarakan, Senin (24/8).
Menurut Jenny, ketertarikannya mengikuti pelatihan tidak hanya untuk mengetahui cara membuat batik, tetapi juga memahami bagaimana batik dapat dikembangkan.
Selama pelatihan, ia mendapat kesempatan mempelajari berbagai teknik dasar membatik. Jenny juga berinteraksi dengan peserta dari etnis lain dan saling bertukar pengetahuan mengenai corak yang dimiliki masing-masing kelompok.
“Kesannya selama di sini bisa bertemu dengan teman-temannya yang lain, dari etnis-etnis yang lain, dan kita juga bisa belajar satu sama yang lain,” katanya.
Menurutnya, pertukaran corak tersebut menjadi pengalaman menarik karena setiap etnis memiliki karakter budaya yang dapat menjadi inspirasi dalam pengembangan motif batik.
Meski mengaku belum bisa menggambar maupun melukis sebelumnya, Jenny mulai memahami teknik dasar membatik setelah mengikuti pelatihan selama sepekan.
“Semua teknik sudah lumayan paham, untuk teknik dasar juga sudah paham,” tuturnya.
Dari beberapa teknik yang dipelajari, Jenny mengaku lebih tertarik pada batik cetak karena dinilai lebih mudah. Namun, ia juga mencoba teknik menggunakan canting yang menurutnya membutuhkan ketelitian lebih.
Selama pelatihan, Jenny berhasil membuat dua karya, masing-masing menggunakan teknik batik cetak dan canting.
“Ada dua, membatik cetak sama canting, yang lebih susah di canting,” jelasnya.
Pengalaman tersebut menjadi modal awal bagi Jenny untuk terus belajar. Ia berencana melanjutkan latihan secara mandiri setelah kembali ke rumah dan memperdalam keterampilan yang telah diperoleh selama pelatihan.
“Mungkin saya bisa belajar nanti di rumah sendiri, untuk mengembangkan batiknya,” katanya.
Jenny berharap ke depan dapat terus belajar mengenai pengembangan batik Malinau, termasuk menggali motif dan corak yang dapat mencerminkan identitas budaya daerah.
Bagi dirinya, pelatihan selama sepekan tersebut menjadi langkah awal untuk mengenal dunia batik. Dari yang sebelumnya belum pernah membatik, kini Jenny telah mampu menghasilkan dua karya dan memiliki keinginan untuk terus mengembangkan keterampilannya. (dip)
Editor : Azward Halim