Belajar Sekaligus Dibayar,TP PKK dan Dekranasda Malinau Siapkan Skema Upah bagi Pembatik

Dip Ratar • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 06:38 WIB
Ketua TP PKK sekaligus Dekranasda Kabupaten Malinau, Ny. Maylenty Wempi. FOTO: DIPA/RADAR TARAKAN
Ketua TP PKK sekaligus Dekranasda Kabupaten Malinau, Ny. Maylenty Wempi. FOTO: DIPA/RADAR TARAKAN

MALINAU - Pelatihan membatik yang digelar Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Malinau tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan keterampilan peserta. Setelah pelatihan selesai, peserta juga berpeluang melanjutkan belajar sekaligus mendapatkan penghasilan dari setiap tahapan produksi batik.

 

Ketua TP PKK sekaligus Dekranasda Kabupaten Malinau, Ny. Maylenty Wempi, mengatakan pihaknya telah menyiapkan tempat bagi peserta untuk melanjutkan latihan secara mandiri. Program tersebut sekaligus menjadi upaya mendorong keterampilan membatik agar berkembang menjadi kegiatan ekonomi keluarga.

 

“Pelatihan yang kita laksanakan pada hari ini adalah dalam rangka Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-81. Khusus untuk PKK dan Dekranasda pada tahun ini kita ambil tema bagaimana memberdayakan dan menggali potensi yang ada di Kabupaten Malinau, khususnya dalam membatik,” ujar Maylenty usai penutupan pelatihan, Senin (24/8/2026).

 

Menurut Maylenty, pelatihan yang berlangsung selama satu pekan itu merupakan tahap awal. Selanjutnya, peserta yang ingin memperdalam kemampuan membatik dapat mengikuti kelas mandiri yang disiapkan di tempat produksi batik milik TP PKK dan Dekranasda.

 

Berbeda dengan pelatihan sebelumnya yang seluruh pembiayaannya ditanggung pemerintah daerah, kelas lanjutan tersebut akan dilakukan secara mandiri sesuai kemauan peserta.

 

“Kita akan buka kelas. Mereka berdasarkan kemauan sendiri, mereka siap untuk mengeluarkan mungkin anggarannya sedikit untuk melanjutkan pelatihan secara mandiri. Kalau yang saat ini kita laksanakan secara penuh dibiayai oleh pemerintah daerah,” jelasnya.

 

Menariknya, ruang yang disiapkan tersebut nantinya tidak hanya menjadi tempat belajar. Peserta juga dapat terlibat langsung dalam proses produksi dan memperoleh upah berdasarkan pekerjaan yang dilakukan.

 

“Kalau dibilang bergaji, karena setiap lembaran ngecap itu sudah ada harganya. Mewarnai sudah ada harganya, mengunci batik sudah ada harganya. Upahnya berapa kita sudah ada susun,” ungkap Maylenty.

 

Skema tersebut, kata dia, disusun berdasarkan arahan dan pengalaman pelatih, termasuk praktik yang telah berjalan di Desa Wisata Pulau Sapi. Dengan sistem tersebut, masyarakat dapat terus mengasah keterampilan sekaligus memperoleh penghasilan dari hasil pekerjaannya.

 

Maylenty menilai peluang ekonomi dari membatik cukup besar apabila ditekuni secara serius. Karena itu, ia berharap peserta tidak berhenti setelah mengikuti pelatihan, tetapi mampu mengembangkan keterampilan tersebut menjadi sumber tambahan pendapatan keluarga.

 

“Kalau diseriusin besar sekali pemasukan dan hasil dari membatik. Dan tentunya dengan harapan kita dari pelatihan, dari hasil dan menjual ada peningkatan ekonomi dalam keluarga si pembatik jika diseriusin,” katanya.

 

Selain membuka peluang ekonomi, program tersebut juga diarahkan untuk memperluas pengembangan batik berbasis keberagaman etnis di Kabupaten Malinau. Sebelumnya, kegiatan membatik telah berjalan di sekitar empat etnis. Dalam pelatihan kali ini, TP PKK dan Dekranasda melibatkan perwakilan dari 11 etnis.

 

Total terdapat 22 peserta dari 11 etnis, masing-masing dua orang per etnis. Selain itu, terdapat 10 peserta dari kalangan milenial yang mengikuti pelatihan.

 

Antusiasme masyarakat terhadap pelatihan membatik juga disebut cukup tinggi. Maylenty mengatakan jumlah masyarakat yang berminat sebenarnya melebihi kuota yang tersedia. Bahkan, peserta milenial mendaftarkan diri secara langsung melalui media TP PKK dan Dekranasda, bukan sekadar karena ditunjuk sebagai perwakilan.

 

“Dalam peserta ini bukan hanya 11 etnis, tapi ada milenial yang mendaftarkan diri secara langsung ke media PKK dan Dekranasda. Berarti mereka ini memang mau sendiri, bukan karena dipilih dari perwakilan,” ujarnya.

 

Melihat tingginya minat tersebut, TP PKK dan Dekranasda Malinau berencana membuka kelas mandiri bagi masyarakat yang ingin belajar lebih lanjut. Dengan demikian, pelatihan membatik diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi berkembang menjadi wadah pembelajaran, produksi, sekaligus peluang usaha bagi masyarakat.

 

Maylenty berharap pengembangan batik di Malinau dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat langsung bagi keluarga pembatik. Selain menjaga dan menggali potensi budaya lokal, kegiatan tersebut diharapkan mampu menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat. (dip)

Editor : Azward Halim
malinau