Warga Sungai Tubu Malinau Berjalan Kaki, Menyusuri Sungai hingga Dua Hari demi HUT RI Ke-81

Dip Ratar • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 05:08 WIB
HUT RI: Suasana sederhana Upacara Peringatan HUT RI Ke-81 di Pedalaman Sungai Tubu, Desa Long Pada, Malinau, Senin (17/8) lalu. FOTO: DIPA/RADAR TARAKAN
HUT RI: Suasana sederhana Upacara Peringatan HUT RI Ke-81 di Pedalaman Sungai Tubu, Desa Long Pada, Malinau, Senin (17/8) lalu. FOTO: DIPA/RADAR TARAKAN

MALINAU - Semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Republik Indonesia tidak surut meski harus menghadapi keterbatasan akses. Warga dari sejumlah desa di Kecamatan Sungai Tubu, Kabupaten Malinau, rela berjalan kaki dan menyusuri sungai hingga dua hari untuk menghadiri upacara peringatan HUT Ke-81 RI di Desa Long Pada, Senin (17/8).

Upacara yang dipusatkan di Desa Long Pada selaku ibu kota Kecamatan Sungai Tubu tersebut berlangsung sederhana namun tetap khidmat. Masyarakat dan aparatur pemerintah desa dari lima desa hadir untuk mengikuti peringatan hari kemerdekaan.

Camat Sungai Tubu, Jimmy Sakay, mengatakan kehadiran masyarakat dari lima desa menjadi bentuk semangat dan penghormatan terhadap momentum kemerdekaan, meskipun warga saat ini tengah disibukkan dengan aktivitas berladang.

“Upacara dilaksanakan secara sederhana namun tetap khidmat. Masyarakat, secara khusus aparatur pemerintah desa di lima desa, hadir walau di tengah kesibukan musim ladang,” ujarnya kepada Radar Tarakan, Senin (17/8).

Perjalanan menuju ibu kota kecamatan menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat. Dari empat desa, warga harus menggunakan jalur sungai dengan perahu untuk mencapai Desa Long Pada. Sementara satu desa lainnya dapat ditempuh menggunakan jalur darat.

Tidak semua perjalanan dapat dilakukan dengan mudah. Beberapa desa membutuhkan waktu tempuh hingga satu sampai dua hari. Warga bahkan harus berjalan kaki terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan perahu.

“Untuk berkumpul di ibu kota kecamatan, masyarakat dari empat desa menempuh perjalanan dengan menggunakan perahu. Ada yang harus berjalan kaki terlebih dahulu baru dilanjutkan menggunakan perahu,” jelasnya.

Sementara itu, warga Desa Long Ranau membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk mencapai ibu kota Kecamatan Sungai Tubu.

Perjalanan panjang tersebut menjadi gambaran nyata kondisi geografis dan keterbatasan akses transportasi yang masih dihadapi masyarakat di wilayah pedalaman Malinau.

Di balik semangat masyarakat menghadiri upacara, terdapat harapan besar agar kemerdekaan juga diwujudkan melalui pemerataan pembangunan hingga ke wilayah pedalaman.

Jimmy mengatakan masyarakat berharap pemerintah terus memperhatikan pembangunan dasar, khususnya ketersediaan listrik serta akses jalan yang menghubungkan antardesa maupun antar-kecamatan.

“Melalui perayaan kemerdekaan ini, masyarakat menggantungkan harapan kepada pemerintah terkait pemerataan pembangunan sampai ke pedalaman negeri ini,” katanya.

Menurutnya, pembangunan akses di Sungai Tubu memang menghadapi tantangan karena sejumlah wilayah berada dalam kawasan hutan lindung dan taman nasional. Kondisi tersebut membuat pembangunan infrastruktur, khususnya jalan, membutuhkan penanganan yang disesuaikan dengan status kawasan.

Meski harus menempuh perjalanan panjang, berjalan kaki, hingga menyusuri sungai menggunakan perahu, masyarakat tetap menunjukkan semangat untuk hadir dan merayakan kemerdekaan bersama.

Bagi warga Sungai Tubu, perjalanan tersebut bukan sekadar menuju lokasi upacara. Langkah kaki dan perjalanan menyusuri sungai menjadi bagian dari perjuangan masyarakat pedalaman untuk tetap menjaga semangat kebangsaan sekaligus menyampaikan harapan agar pembangunan dan pelayanan dasar dapat dirasakan secara lebih merata.

Dari pedalaman Sungai Tubu, semangat Merah Putih pun tetap berkibar, meski jarak dan medan menjadi bagian dari keseharian masyarakat dalam mengakses pusat pemerintahan di Kabupaten Malianu. (dip)

Editor : Azward Halim
malinau