MALINAU - Sekitar 5.100 masyarakat dari enam etnis di Kecamatan Malinau Utara turut memeriahkan Karnaval Budaya dalam rangkaian Harmoni Kemilau, Kamis (13/8).
Karnaval tersebut menjadi salah satu rangkaian utama Harmoni Kemilau yang mengangkat semangat keberagaman sekaligus upaya menjaga tradisi masyarakat Malinau Utara di tengah perkembangan zaman.
Camat Malinau Utara, Nopis Muhramsyah Ishak, mengatakan Harmoni Kemilau dirancang dengan semangat menjaga tradisi untuk menyongsong masa depan.
Menurutnya, masyarakat Malinau Utara terdiri dari enam etnis, yakni Abay, Punan, Tidung, Tahol, Tinggalan dan Lundayeh. Keberagaman tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan selama ini mampu hidup berdampingan.
“Kemilau sendiri ada enam etnis yang ada di Kecamatan Malinau Utara, di antaranya Abay, Punan, Tidung, Tahol, Tinggalan, dan Lundayeh,” kata Nopis kepada Radar Tarakan saat diwawancarai, Kamis (13/8).
Ia menjelaskan, Karnaval Budaya tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial atau hiburan semata. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan dan mempertahankan keberagaman budaya kepada generasi muda.
Semangat tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Kecamatan Malinau Utara agar masyarakat tetap memiliki identitas budaya, namun mampu berpikir dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
“Intinya bagaimana caranya menyongsong masa depan, akan tetapi tetap merawat tradisi yang ada di Kecamatan Malinau Utara,” ujarnya.
Nopis mengatakan, pelaksanaan karnaval tahun ini melibatkan sekitar 5.100 peserta. Jumlah tersebut sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya, namun tidak mengurangi antusiasme masyarakat dalam mengikuti kegiatan.
Selain menampilkan keberagaman budaya, karnaval juga diarahkan untuk membangun semangat pendidikan dan cita-cita generasi muda. Peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai PAUD, TK, SD, SMP hingga SMA, diajak untuk mulai memikirkan masa depan dan cita-cita mereka.
Jika pada pelaksanaan sebelumnya mengangkat tema “Cita-citaku”, semangat tersebut tetap dipertahankan agar anak-anak sejak dini memiliki gambaran mengenai apa yang ingin mereka capai di masa depan.
“Bagaimana adik-adik dari SD, PAUD, TK, SMP, SMA sudah berpikir ingin menjadi apa di kemudian hari,” jelasnya.
Rangkaian Harmoni Kemilau sendiri tidak hanya diisi Karnaval Budaya. Sebelumnya, kegiatan diawali dengan kompetisi mini soccer di Desa Putat dan dilanjutkan dengan pelatihan MC yang didukung PKK Kecamatan Malinau Utara. Rangkaian kegiatan tersebut nantinya ditutup pada 19 Agustus 2026 di Desa Putat.
Menurut Nopis, pemilihan mini soccer dan karnaval budaya sebagai bagian dari kegiatan rutin memiliki tujuan jangka panjang. Mini soccer menjadi sarana untuk membangun fondasi keterampilan olahraga anak-anak sejak sekolah dasar, sementara karnaval menjadi ruang untuk menjaga tradisi sekaligus menanamkan orientasi masa depan.
“Kami coba lakukan ini, semoga bisa terasa paling lambat di lima tahun akan datang,” katanya.
Ia berharap Harmoni Kemilau dapat terus menjadi wadah yang mempertemukan keberagaman masyarakat Malinau Utara, sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat persatuan dan membangun generasi yang mampu menjaga budaya daerah.
Dengan melibatkan enam etnis dan ribuan peserta, Karnaval Budaya Harmoni Kemilau tahun ini menjadi gambaran bahwa keberagaman tidak menjadi penghalang untuk bersatu. Sebaliknya, keberagaman menjadi kekuatan untuk bersama-sama merawat tradisi dan menyongsong masa depan Malinau Utara. (dip)
Editor : Azward Halim