Mengenal Mandi Salamun, Ritual Doa Keselamatan dalam Tradisi Berebu Pagun Safar di Malinau

Dip Ratar • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:23 WIB
TRADISI: Seorang Balita saat mengikuti prosesi mandi salamun dalam tradisi Berebu Pagun Safar. FOTO: DIPA/RADAR TARAKAN
TRADISI: Seorang Balita saat mengikuti prosesi mandi salamun dalam tradisi Berebu Pagun Safar. FOTO: DIPA/RADAR TARAKAN

MALINAU - Tradisi Berebu Pagun Safar yang dilaksanakan masyarakat Tidung di Kecamatan Malinau Kota tidak hanya menjadi momentum untuk berkumpul dan memanjatkan doa tolak bala. Di dalam rangkaiannya terdapat prosesi mandi Salamun yang sarat dengan doa dan harapan keselamatan.

Mandi Salamun menjadi salah satu bagian yang memiliki makna khusus bagi masyarakat yang menjalankannya. Prosesi ini dilakukan sebagai bentuk ikhtiar untuk memohon perlindungan, kesehatan, kelancaran rezeki serta kebaikan dalam kehidupan.

Tokoh adat Tidung Kabupaten Malinau, Hj. Basrin Ilak, yang juga menjadi pembaca doa dalam kegiatan tersebut, menjelaskan bahwa Berebu Pagun Safar merupakan tradisi yang diwariskan oleh para leluhur masyarakat Tidung.

Menurutnya, pelaksanaan tolak bala tidak hanya dilakukan pada Rabu terakhir bulan Safar. Masyarakat juga mengenal pelaksanaannya pada Rabu pertama sebagai bentuk ikhtiar memohon perlindungan dari berbagai mara bahaya.

“Itu sebenarnya sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan oleh para leluhur, khususnya orang Tidung. Jadi sebenarnya Rabu bukan hanya Rabu terakhir, Rabu pertama juga diadakan acara tolak bala,” jelasnya kepada Radar Tarakan.

Basrin mengatakan, dalam pemahaman yang berkembang di masyarakat, akhir bulan Safar dipercaya sebagai waktu yang berkaitan dengan turunnya berbagai bala. Karena itu, masyarakat terdahulu melakukan doa dan berbagai ikhtiar sebagai bentuk permohonan agar terhindar dari mara bahaya.

“Pada akhir bulan Safar itu sebanyak berapa ribu macam bala. Jadi kalau orang-orang tua kita, orang Tidung khususnya, mengingat itu mungkin turunnya di akhir bulan Safar, alangkah baiknya kita cegah juga di awal bulan Safar, di hari Rabu. Itu maksudnya,” katanya.

Salah satu rangkaian yang kemudian menjadi perhatian adalah mandi Salamun. Basrin menjelaskan, prosesi tersebut memiliki bacaan dan doa tersendiri, terutama ketika dilaksanakan pada akhir bulan Safar.

“Jadi ini tadi mengenai mandi Salamun, itu memang ada ayatnya sendiri, ada doanya sendiri. Itu seperti yang saya bacakan terakhir tadi, itu Salamun. Itu terutama untuk mandi, mandi bulan Safar terakhir,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, mandi Salamun tidak sekadar dimaknai sebagai aktivitas membersihkan tubuh. Pembacaan ayat-ayat Salamun menjadi bagian penting yang mengandung doa dan harapan agar masyarakat memperoleh keselamatan serta ketenangan dalam menjalani kehidupan.

Ayat-ayat yang dibacakan di antaranya mengambil petikan dari sejumlah surah dalam Al-Qur’an, termasuk Surah Yasin, Az-Zumar hingga Al-Qadr.

Pembacaan tersebut dipahami masyarakat sebagai landasan spiritual untuk menyucikan niat sekaligus memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Penyebutan nama-nama nabi dalam rangkaian ayat yang dibacakan juga dimaknai sebagai simbol keteladanan. Harapannya, masyarakat diberikan keteguhan hati, kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Bagi masyarakat yang menjalankan tradisi tersebut, doa yang dipanjatkan juga memiliki harapan yang beragam.

“Maksudnya, supaya siapa tahu kalau yang sakit, insya Allah mudah-mudahan cepat disembuhkan. Yang katanya belum dapat jodoh, insya Allah dapat jodoh. Yang belum ketemu rezeki, mudah-mudahan diberikan rezeki,” tuturnya.

Prosesi mandi Salamun dilakukan dengan cara menyiramkan air sebanyak tiga kali. Penyiraman dilakukan pada bagian atas kepala, kemudian sisi kanan dan sisi kiri.

“Kita nyiram cukup tiga kali, atas kanan kiri,” jelasnya.

Air yang digunakan juga dicampur dengan bunga-bunga yang memiliki aroma harum. Penggunaan bunga tersebut tidak sekadar menjadi pelengkap prosesi, tetapi memiliki simbol tersendiri bagi masyarakat.

Basrin menjelaskan, aroma harum dari bunga diharapkan menjadi simbol agar orang yang menjalani prosesi mandi Salamun juga memperoleh keharuman dalam kehidupannya.

“Itu bunga-bunga itu, itu kan wangi-wangi. Supaya yang diharapkan, semoga badan orang yang dimandikan dengan aroma-aroma bunga itu semoga begitu juga. Wangi,” katanya.

Selain air dan bunga, terdapat pula tulisan doa Salamun yang dalam praktiknya dapat diikatkan pada bagian kepala peserta. Tulisan tersebut menjadi bagian dari rangkaian doa yang menyertai prosesi mandi Salamun.

Dengan demikian, mandi Salamun dalam tradisi Berebu Pagun Safar tidak hanya menjadi prosesi budaya, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar spiritual masyarakat Tidung.

Melalui doa, pembacaan ayat dan simbol-simbol yang digunakan dalam prosesi, masyarakat memanjatkan harapan agar diberikan keselamatan, kesehatan, rezeki serta ketenangan dalam menjalani kehidupan.

Tradisi tersebut sekaligus menjadi bagian dari warisan leluhur masyarakat Tidung di Malinau yang terus dipertahankan dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.

Bagi masyarakat yang melaksanakannya, Berebu Pagun Safar bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan sekaligus mengingatkan pentingnya doa dan ikhtiar dalam memohon perlindungan kepada Tuhan. (dip)

Editor : Azward Halim
malinau