Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Filosofi Hidup Dayak Punan Long Adiu: Semua Kebutuhan Ada di Hutan, Ia Seperti Air Susu Ibu Kami

Dip Ratar • Selasa, 16 Juni 2026 | 14:39 WIB
TERANCAM: Tim Verifikasi Lapangan untuk MHA Punan Long Adiu saat memaparkan temuan ancaman Perusahan Sawit diwilayah MHA. FOTO: DIPA/RADAR TARAKAN
TERANCAM: Tim Verifikasi Lapangan untuk MHA Punan Long Adiu saat memaparkan temuan ancaman Perusahan Sawit diwilayah MHA. FOTO: DIPA/RADAR TARAKAN

MALINAU - Bagi masyarakat Dayak Punan Long Adiu, hutan bukan hanya hamparan pepohonan atau sumber penghidupan. Hutan adalah ruang hidup, identitas budaya, sekaligus warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang.

Filosofi tersebut kembali ditegaskan dalam proses verifikasi usulan hutan adat yang dilakukan Kementerian Kehutanan RI di Desa Punan Long Adiu, Kecamatan Malinau Selatan Hilir.

Ketua Lembaga Adat Dayak Punan Long Adiu, Markus Ilun mengatakan masyarakat Punan memandang hutan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka. Seluruh kebutuhan masyarakat, mulai dari pangan, obat-obatan hingga sumber penghidupan, diperoleh dari hutan.

“Kalau hutan dibabat habis, maka habis juga kehidupan kami. Karena semua kebutuhan kami ada di hutan. Itulah sebabnya kami menjaga hutan itu,” ujarnya saat ditemui Radar Tarakan.

Menurut Markus, hubungan masyarakat Punan dengan hutan telah terjalin sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, keberadaan hutan tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki makna budaya dan spiritual yang kuat.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat masih memanfaatkan hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Berburu, meramu, berladang serta mencari hasil hutan bukan kayu masih menjadi bagian dari aktivitas masyarakat.

Selain itu, berbagai jenis tanaman obat tradisional yang digunakan masyarakat juga berasal dari kawasan hutan. Pengetahuan tersebut diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari identitas masyarakat adat.

Markus mengatakan kekhawatiran terbesar masyarakat saat ini adalah semakin berkurangnya kawasan hutan akibat berbagai aktivitas pemanfaatan lahan berskala besar.

“Kalau kita lihat keadaan hutan sekarang, lama-lama habis. Ada perusahaan kayu, tambang, dan sekarang sawit. Karena itulah kami merasa hutan ini perlu bagi kami,” katanya.

Kekhawatiran tersebut menjadi salah satu alasan masyarakat menolak rencana perkebunan kelapa sawit di wilayah mereka. 

Melalui musyawarah desa dan musyawarah adat, masyarakat telah menyampaikan penolakan resmi terhadap rencana kegiatan PT Anea Agro Nusantara.

Dalam surat penolakan yang disampaikan kepada Tim Terpadu Verifikasi Teknis Hutan Adat Punan Long Adiu, masyarakat menegaskan bahwa mereka tidak pernah memberikan persetujuan terhadap kehadiran perusahaan tersebut dan menilai perkebunan sawit berpotensi merusak hutan, menghilangkan ruang hidup masyarakat adat serta mengancam keberlangsungan budaya dan kehidupan generasi mendatang.

Bagi masyarakat Punan Long Adiu, menjaga hutan berarti menjaga masa depan. Hutan tidak hanya menyediakan kebutuhan hari ini, tetapi juga menjadi jaminan kehidupan bagi anak cucu mereka kelak.

Markus menjelaskan masyarakat memiliki filosofi hidup yang menggambarkan betapa pentingnya hutan dalam kehidupan orang Punan.

“Kami punya istilah telang ota’inek, artinya air susu ibu,” ujarnya.

Filosofi tersebut menggambarkan bahwa hutan memberi kehidupan sebagaimana seorang ibu memberikan air susu kepada anaknya. Karena itu, hutan harus dijaga dan diwariskan dalam keadaan baik kepada generasi berikutnya.

“Hutan itu adalah rumah kami. Kami orang Punan hidup dan besar dari hutan,” sebutnya.

Sementara itu, Penanggung Jawab Verifikasi Lapangan Punan Long Adiu, Adi Prasetijo menilai hubungan masyarakat dengan hutan bukan hubungan yang bersifat sementara, melainkan hubungan yang permanen dan diwariskan secara turun-temurun.

Menurutnya, identitas budaya masyarakat Punan Long Adiu sangat terkait dengan keberadaan hutan. Karena itu, hilangnya hutan juga berpotensi menghilangkan pengetahuan tradisional dan jati diri masyarakat adat.

“Kalau hutan tidak ada, pengetahuan-pengetahuan ini akan hilang. Ketika pengetahuan ini hilang, maka jati diri atau identitas masyarakat Punan Long Adiu juga akan terpengaruh,” pungkasnya. (dip/lim)

Editor : Azward Halim
#malinau