MALINAU – Kualitas sumber daya manusia (SDM) di Kabupaten Malinau masih menjadi tantangan serius. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, mayoritas tenaga kerja di daerah ini masih didominasi oleh lulusan pendidikan rendah.
Berdasarkan rilis Malinau Dalam Angka 2026, sekitar 30,29 persen penduduk bekerja di Malinau hanya berpendidikan SD ke bawah, baik yang tidak tamat maupun yang hanya menyelesaikan sekolah dasar.
Kondisi ini menggambarkan bahwa kualitas tenaga kerja di Malinau masih perlu ditingkatkan, terutama untuk menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif.
Di sisi lain, tenaga kerja dengan pendidikan tinggi seperti Diploma dan Universitas tercatat sebesar 21,89 persen, mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya tren perbaikan, meskipun belum signifikan.
Dalam data BPS disebutkan bahwa tingkat pendidikan menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan produktivitas tenaga kerja disuatu Kabupaten/Kota.
Sementara itu, Pemkab Malinau terus berupa meningkatkan kulitas pendidikan dimalinau, salah satunya melalui Program Beasiswa Desa Sarjana Unggul. Sejak diluncurkan pada 2021, program ini terus menunjukkan perkembangan signifikan. Hingga tahun 2025, jumlah peserta DSU telah mencapai 1.859 orang dari berbagai desa di Kabupaten Malinau.
Bupati Malinau, Wempi W Mawa menerangkan bahwa program Beasiswa DSU merupakan langkah strategis Pemkab Malinau dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Program ini tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga membentuk generasi yang berkarakter, berdaya saing, serta memiliki komitmen untuk kembali membangun desa.
“Semangat yang kita bangun adalah dari desa, oleh desa, dan untuk desa. Pendidikan harus menjadi alat pemerataan pembangunan, terutama bagi wilayah yang masih memiliki keterbatasan akses,” ujarnya saat kick-off Beasiswa DSU beberapa waktu lalu.
Upaya peningkatan akses dan kualitas pendidikan dinilai penting agar tenaga kerja lokal tidak hanya terserap di sektor tradisional, tetapi juga mampu bersaing di sektor-sektor modern yang membutuhkan keahlian lebih tinggi. (*/dip/lim)
Editor : Azward Halim