Isu tersebut mengemuka dalam kunjungan kerja Wakil Menteri Digital Sarawak, Malaysia, Datuk Wilson Uga Anak Kumbong, ke wilayah perbatasan Apau Kayan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, Rabu (25/3).
Dalam kunjungan itu, Wilson meninjau langsung fasilitas PLBN Long Nawang di Kecamatan Kayan Hulu. Ia didampingi sejumlah pejabat Sarawak, termasuk Residen Bahagian Kapit Elvis Anak Didit dan Residen Bahagian Miri Galong Anak Luan, bersama jajaran pegawai daerah.
Dari hasil peninjauan, Wilson menilai PLBN memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai pintu keluar masuk negara, tetapi juga sebagai simpul aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat lintas batas.
“Kalau kemudahan ini ada, pergerakan masyarakat antara Long Nawang dan Kapit akan lebih mudah dan memberi dampak besar bagi ekonomi,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi kesiapan Indonesia, khususnya Kalimantan Utara, yang dinilai lebih maju dalam membangun fasilitas PLBN dengan sarana yang relatif lengkap. Menurutnya, hal tersebut dapat menjadi rujukan bagi pemerintah Malaysia.
“Saya kagum dengan pembangunan PLBN di Indonesia. Ini akan saya laporkan kepada kerajaan Malaysia sebagai rujukan,” katanya.
Namun demikian, pengembangan fasilitas serupa di pihak Sarawak masih menghadapi kendala kewenangan. Wilson mengakui pembangunan fasilitas ICQS (Immigration, Customs, Quarantine, Security) sepenuhnya berada di bawah pemerintah pusat Malaysia, sehingga realisasinya memerlukan proses lebih panjang.
“Permohonan ini akan kita satukan dan dibawa ke pihak yang berkuasa di kerajaan pusat,” jelasnya.
Di sisi lain, ia mengungkapkan bahwa ke depan konsep pengembangan PLBN di Sarawak tidak hanya difokuskan sebagai pos lintas batas, tetapi juga diarahkan menjadi pusat ekonomi terpadu yang mencakup perdagangan dan layanan publik.
Meski demikian, optimalisasi peran PLBN Long Nawang masih menghadapi tantangan, terutama terkait konektivitas dan kesiapan infrastruktur pendukung di kedua sisi perbatasan. Tanpa dukungan tersebut, potensi ekonomi lintas negara dikhawatirkan belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Kunjungan ini menjadi sinyal penguatan kerja sama Indonesia-Malaysia di kawasan perbatasan. Namun, publik masih menanti sejauh mana komitmen tersebut mampu diwujudkan dalam pembangunan konkret, bukan sekadar rencana jangka panjang. (*/dip/lim)
Editor : Azward Halim