Kenaikan harga tersebut terbilang cepat. Jika dihitung, lonjakan dari harga normal Rp 72.500 ke Rp 150.000 mencapai sekitar 107 persen, menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan dalam waktu singkat.
Seorang pedagang, Haji Sari, mengungkapkan bahwa tingginya harga dipengaruhi oleh naiknya harga dari daerah pemasok serta meningkatnya permintaan menjelang dan setelah Lebaran. “Kalau beli, modal kami sudah Rp 140 ribu per kilo, kami jual di harga Rp 150 ribu. Menjelang Lebaran memang naik, karena kebutuhan masyarakat tinggi. Selain itu, harga di luar daerah seperti Berau, Tanjung, dan Tarakan juga mahal, jadi banyak pengiriman ke sana,” ujarnya kepada Radar Tarakan, Kamis (26/3).
Ia memperkirakan harga cabai akan mulai mengalami penurunan dalam beberapa hari ke depan. “Prediksi kami mungkin dua sampai tiga hari sudah mulai turun. Kenaikan ini sudah hampir satu minggu, mulai sekitar dua hari sebelum Lebaran sampai sekarang setelah Lebaran,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bagian Perdagangan Disperindagkop Malinau, Yeni, menjelaskan bahwa lonjakan harga dipicu oleh berkurangnya stok serta meningkatnya permintaan di pasaran. “Ini karena stok berkurang dan permintaan meningkat. Selain itu, petani juga cenderung menjual hasil panennya ke luar Malinau yang menawarkan harga lebih tinggi,” jelasnya.
Di sisi lain, seorang pembeli, Ros yang bekerja sebagai ASN, mengaku terpaksa mengurangi jumlah pembelian cabai akibat harga yang melonjak tinggi. “Biasanya saya beli setengah kilo atau satu kilo, sekarang paling beli sedikit saja, seperempat kilo. Harganya mahal sekali, dirumah juga yang makan cuman saya sama suami,” tuturnya.
Pemerintah daerah terus memantau perkembangan harga bahan pokok di pasaran guna mengantisipasi lonjakan harga yang dapat memberatkan masyarakat. (*/dip/lim)
Editor : Azward Halim