Bupati Wempi W Mawa mengungkapkan bahwa banjir yang terjadi dua hari sebelum Idulfitri menggenangi sekitar 90 persen wilayah Malinau Kota. Kondisi tersebut berdampak besar terhadap masyarakat, terutama dalam mempersiapkan kebutuhan Lebaran.
“Memang tahun ini suasananya sedikit berbeda. Banjir yang terjadi sangat mempengaruhi keluarga-keluarga kita dalam menyambut hari raya,” ujarnya saat diwawancarai usai bersilahturahmi kerumah warga, Sabtu (21/3).
Meski demikian, kondisi mulai membaik setelah air berangsur surut pada Jumat (20/3). Warga pun perlahan kembali beraktivitas, membersihkan rumah, serta menyiapkan kebutuhan Idulfitri meski dalam kondisi lelah.
“Alhamdulillah air mulai surut, sehingga masyarakat bisa kembali mempersiapkan Lebaran, walaupun dengan kelelahan karena harus membersihkan rumah dan lingkungan,” tambahnya.
Di tengah situasi tersebut, semangat kebersamaan dan silaturahmi tetap terjaga. Pemerintah Kabupaten Malinau bersama jajaran pejabat lintas agama turut melakukan kunjungan ke tokoh masyarakat dan warga Muslim sebagai bentuk kebersamaan di momen hari raya.
Menurut Wempi, kegiatan tersebut merupakan tradisi yang terus dijaga di Bumi Intimung sebagai simbol persatuan dan toleransi antarumat beragama.
“Kami datang bersama-sama, termasuk saudara-saudara kita dari berbagai agama, untuk bersilaturahmi dengan umat Muslim. Ini adalah bentuk kebersamaan yang selalu kita jaga di Malinau,” jelasnya.
Ia pun berharap Idulfitri tahun ini menjadi momentum kebangkitan bagi masyarakat setelah melewati ujian banjir dan menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.
“Semoga setelah Ramadan ini, masyarakat memiliki semangat baru untuk memberikan yang terbaik bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, hingga bangsa dan negara,” tutupnya. (*/dip/lim)
Editor : Azward Halim