Sebelumnya, korban dilaporkan tidak pulang ke rumah sejak Rabu (25/2). Pihak keluarga mulai khawatir karena waktu hilangnya korban bertepatan dengan meningkatnya debit air Sungai Sesayap akibat kiriman dari Sungai Mentarang.
Kapolsek Malinau Kota, Ipda Santun Siboro, mengatakan korban ditemukan pada Kamis siang sekitar pukul 13.05 Wita, tidak jauh dari lokasi pukat dan perahunya setelah dilakukan pencarian oleh keluarga dan warga.
“Korban ditemukan di sungai, tidak jauh dari lokasi ia memasang pukat. Saat ditemukan, korban sudah dalam kondisi meninggal dunia,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (26/2).
Peristiwa ini bermula ketika seorang saksi melihat korban sedang memasang pukat di seberang rumahnya pada Rabu sore sekitar pukul 17.00 Wita. Namun hingga keesokan harinya, korban tak kunjung kembali.
Kecurigaan muncul saat warga melihat perahu korban masih berada di posisi yang sama dan tidak berpindah sejak sore sebelumnya. Warga kemudian menghubungi pihak keluarga untuk memastikan keberadaan korban di rumah, sebelum akhirnya dinyatakan hilang.
Pencarian dilakukan secara mandiri oleh keluarga bersama warga dengan menyisir area sekitar perahu dan lokasi pukat. Setelah pencarian intensif, korban akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.
Jenazah korban kemudian dievakuasi dan dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan.
Masyarakat diimbau agar lebih berhati-hati saat beraktivitas di sungai, terutama dalam kondisi air meningkat seperti saat ini.
Hingga kini, tercatat dua korban jiwa tidak langsung akibat banjir di Kabupaten Malinau. Sebelumnya, seorang balita berusia dua tahun juga dilaporkan meninggal dunia setelah terjatuh saat banjir melanda wilayah tersebut. (*/dip/lim)
Editor : Azward Halim