Ketua RT 14 Desa Tanjung Lapang, Berahim, mengatakan debit air naik cukup cepat sejak pagi hari. Hingga saat ini genangan masih bertahan dan belum menunjukkan tanda-tanda surut.
“Air mulai naik di aspal sekitar jam 7 pagi tadi. Sekarang sudah sekitar 70 sentimeter dan sudah ada rumah warga yang terendam,” ujarnya kepada Radar Tarakan, Rabu (25/2).
Menurutnya, banjir kali ini dipicu oleh meluapnya Sungai Mentarang berdasarkan laporan dari wilayah hulu. Ia berharap Sungai Malinau tidak ikut meluap, karena jika kedua sungai besar tersebut sama-sama mengalami peningkatan debit, kondisi banjir dikhawatirkan akan semakin parah.
“Di Malinau ini ada dua jalur sungai besar, yaitu Sungai Malinau dan Sungai Mentarang. Informasi dari hulu, Sungai Mentarang sedang banjir. Kita berharap Sungai Malinau tidak ikut naik seperti tahun 2023 lalu,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, Berahim menutup total akses jalan yang terdampak banjir di wilayahnya. Jalan tersebut tidak lagi dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat karena genangan sudah cukup tinggi dan membahayakan keselamatan.
“Untuk jalan yang masuk ke RT kami ada dua jalur. Jalur yang terdampak banjir sudah saya tutup total karena sudah tidak bisa dilewati. Kami alihkan ke jalur atas yang berada di belakang,” jelasnya.
Penutupan dilakukan terutama pada akses menuju wilayah Limbumas, yang disebut sebagai daerah paling parah terdampak banjir setiap kali debit air meningkat. “Kalau sudah banjir, daerah Limbumas memang yang paling parah terdampak,” tambahnya.
Selain itu, arus lalu lintas di Simpang Tiga Lapangan Borneo juga dialihkan menuju arah Kantor Camat dan Christiani Center. Sementara akses di jembatan besar ditutup total karena genangan air yang cukup tinggi.
Warga diimbau untuk tetap waspada dan membatasi aktivitas di luar rumah, terutama di titik-titik yang rawan arus deras dan genangan tinggi. Hingga berita ini diturunkan, kondisi air masih bertahan dan masyarakat terus memantau perkembangan debit sungai. (*/dip/lim)
Editor : Azward Halim