Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Ketergantungan Tambang, Ekonomi Malinau Melambat Akibat Lesunya Batu Bara

Dip Ratar • Senin, 2 Februari 2026 | 18:28 WIB
LESU: Salah satu Ponton yang memuat batu bara dari area tambang menuju tempat produksinya.
LESU: Salah satu Ponton yang memuat batu bara dari area tambang menuju tempat produksinya.

MALINAU – Ketergantungan terhadap sektor pertambangan kembali menjadi sorotan. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malinau mencatat pertumbuhan ekonomi daerah mengalami perlambatan pada 2025, seiring melemahnya kinerja sektor batu bara yang selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian Malinau.

Kepala BPS Malinau, Yanuar Dwi Cristyawan menjelaskan bahwa berdasarkan data hingga triwulan III 2025, pertumbuhan ekonomi Malinau tercatat sebesar 3,43 persen secara year on year (Januari–September 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya). Angka ini memang sedikit lebih tinggi dibandingkan triwulan III 2024 yang sebesar 3,36 persen, namun masih jauh di bawah capaian triwulan III 2023 yang berada di kisaran 4,7 persen.

“Kalau kita bandingkan tiga tahun terakhir pada periode yang sama, terlihat jelas terjadi perlambatan. Salah satu faktor utamanya adalah sektor batu bara yang sedang lesu,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, aktivitas produksi di sejumlah perusahaan tambang tidak berjalan optimal, salah satunya dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Curah hujan yang tinggi membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam melakukan produksi karena pertimbangan keselamatan kerja.

“Kami menerima informasi dari beberapa perusahaan, produksi mereka memang tidak maksimal karena faktor hujan dan kondisi lapangan. Ini berdampak langsung pada kinerja sektor pertambangan,” jelasnya.

Menurut Yanuar, struktur ekonomi Malinau yang masih cukup bergantung pada sektor tambang membuat perlambatan di sektor ini langsung terasa pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Karena itu, ia mendorong agar pemerintah daerah terus menggenjot sektor-sektor lain di luar pertambangan, seperti sektor konstruksi, jasa, dan sektor-sektor produktif lainnya, agar dapat menjadi penopang baru pertumbuhan ekonomi.

“Kita perlu memperkuat sektor lain supaya tidak terlalu bergantung pada satu sektor saja. Dengan begitu, ekonomi daerah akan lebih stabil dan tahan terhadap gejolak,” katanya.

BPS Malinau juga menyampaikan bahwa rilis resmi pertumbuhan ekonomi Malinau tahun 2025 secara penuh (full year) direncanakan akan dilakukan pada akhir Februari atau awal Maret 2026, setelah seluruh proses penghitungan data selesai. (*/dip/lim)

Editor : Azward Halim