Kepala Desa Sempayang, Aprem, mengatakan bahwa sebagian besar masyarakat menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, khususnya jagung dan padi, yang dikelola secara mandiri dan berkelanjutan oleh warga.
“Untuk jagung itu di atas 60 persen masyarakat terlibat, begitu juga padi. Ini memang produk unggulan desa kami,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan pertanian di Desa Sempayang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga pada penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Melalui dukungan Pos Pelayanan Teknologi (Posyantek) Desa, berbagai inovasi teknologi tepat guna diterapkan untuk mempermudah pekerjaan petani.
Pada tahun 2025 lalu,Desa Sempayang telah menargetkan produksi jagung mencapai 100 ton per tahun, dan capaian tersebut hampir terealisasi. Hasil panen jagung selama ini dipasarkan dalam bentuk jagung pipil dan jagung giling, dengan rencana pengembangan ke arah hilirisasi produk melalui pengemasan.
“Kita ada rencana untuk produk kemasan seperti tepung jagung, jagung biji jadi kemasan, dan jagung pecah. Ini supaya nilai tambahnya lebih besar untuk masyarakat,” jelasnya.
Pengelolaan hasil pertanian dilakukan melalui kerja sama antara Posyantek dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Posyantek berperan memfasilitasi inovator dan teknologi, sementara BUMDes menangani pengelolaan usaha dan pemasaran.
Keberhasilan Desa Sempayang dalam mengembangkan sektor pertanian berbasis teknologi turut mengantarkan desa ini meraih Juara I Lomba Posyantek Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2024, sekaligus menjadi bukti bahwa potensi desa mampu berkembang melalui kemandirian dan kolaborasi.
“Sejak awal kami bergerak mandiri, berusaha menjawab persoalan masyarakat di lapangan. Prestasi ini adalah hasil kerja bersama seluruh warga desa,” pungkasnya. (*/dip/lim)
Editor : Azward Halim