Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

26 Tahun Didominasi Pertanian, Sektor Jasa Jadi Penyerap Tenaga Kerja Terbesar di Malinau

Azward Halim • Jumat, 23 Januari 2026 | 16:28 WIB

BERGESER: Petani Malinau yang sedang melakukan panen padi pada triwulan ke-3 di Kabupaten Malinau.
BERGESER: Petani Malinau yang sedang melakukan panen padi pada triwulan ke-3 di Kabupaten Malinau.
MALINAU - Setelah selama 26 tahun sektor pertanian mendominasi struktur ketenagakerjaan, Kabupaten Malinau kini mencatat perubahan penting. Pada tahun 2025, sektor jasa resmi menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, menggeser posisi pertanian yang selama ini menjadi lapangan kerja utama masyarakat.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Malinau, Yanuar Dwi Cristyawan mengungkapkan, bahwa pergeseran ini menjadi fenomena menarik dalam dinamika ketenagakerjaan daerah. Berdasarkan data BPS, sektor jasa menyerap 43,50 persen tenaga kerja, sedikit lebih tinggi dibanding sektor pertanian yang berada di angka 43,48 persen.

“Ini menarik karena setelah sekian lama sejak Malinau berdiri, tenaga kerja selalu dikuasai sektor pertanian. Baru di tahun 2025 ini sektor jasa menjadi yang terbesar,” ujarnya.

Ia menegaskan, sektor jasa yang dimaksud merupakan jasa dalam arti luas. Tidak hanya jasa pelayanan, tetapi juga mencakup sektor pemerintahan, pegawai negeri, jasa profesional, real estate, hingga usaha sewa-menyewa.

Meski selisih antara kedua sektor tersebut sangat tipis, Yanuar menilai pergeseran ini tidak disebabkan oleh petani yang beralih profesi ke sektor jasa. Menurutnya, perubahan lebih dipicu oleh angkatan kerja baru yang tidak lagi memilih sektor pertanian.

“Bukan berarti orang yang sebelumnya bertani lalu pindah ke jasa. Tetapi mereka yang baru masuk dunia kerja, sudah tidak melirik pertanian dan lebih memilih sektor non-pertanian, khususnya jasa,” jelasnya.

Kondisi ini, lanjut Yanuar, sejalan dengan kecenderungan generasi muda yang semakin jarang tertarik pada sektor pertanian. Kalaupun ada, biasanya hanya sebatas meneruskan atau membantu orang tua, sementara pekerjaan utamanya tercatat di sektor lain.

Selain sektor jasa, lapangan usaha manufaktur juga menunjukkan peningkatan. Kontribusi tenaga kerja di sektor manufaktur naik baik secara persentase maupun jumlah absolut, dengan capaian 13,03 persen pada 2025.

“Manufaktur naik, jasa naik, sementara penurunan cukup signifikan terjadi di pertanian. Dari sebelumnya sekitar 48 persen, kini turun menjadi 43 persen,” ungkapnya.

Menanggapi keberadaan program pemerintah seperti Satgas Pesat atau Satgas Pertanian, Yanuar menjelaskan bahwa program tersebut tidak serta-merta menciptakan tenaga kerja baru di sektor pertanian. Berdasarkan pengamatan BPS, program ini lebih banyak mengubah status pekerjaan petani.

“Yang sebelumnya punya kebun sendiri dan tercatat sebagai petani, sekarang bekerja di bawah pemerintah sebagai buruh tani. Secara substansi, pekerjaannya masih sama,” jelasnya.

Ia menambahkan, sebagian memang ada masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap lalu bergabung ke Satgas. Namun, banyak pula yang sebelumnya sudah bertani, meski tidak setiap hari mengelola kebun, kemudian kini bekerja lebih rutin melalui program tersebut.

Dari sisi pendidikan, struktur tenaga kerja Malinau masih didominasi oleh penduduk berpendidikan rendah. Tenaga kerja dengan latar belakang lulusan SD atau tidak lulus SD masih menjadi kelompok terbesar, dengan persentase mencapai 30,29 persen.

“Ini karena masih banyak masyarakat kita yang usianya sudah cukup tua dan pada masanya hanya mengenyam pendidikan sampai SD, bahkan ada yang tidak sekolah,” pungkasnya. (*/dip/lim)

Editor : Azward Halim