Ismail, pedagang durian asli Malinau yang berjualan di kawasan Pasar Buah Lama, Malinau Kota, mengatakan durian Tetungun berbeda dari durian kebun pada umumnya. Durian hutan ini memiliki duri yang lebih panjang, bahkan bisa mencapai 2 hingga 3 sentimeter.
“Ini durian hutan, namanya Tetungun ada juga yang bilang tetungon, duri buahnya panjang-panjang, rasanya lebih legit dan tidak terlalu gas,” ujar Ismail kepada Radar Tarakan, Senin (19/01).
Keunggulan durian Tetungun juga dirasakan langsung oleh pembeli. Berto, salah satu warga Malinau, mengaku lebih menyukai durian Tetungun karena aromanya tidak terlalu menyengat dibandingkan durian biasa.
“Saya lebih suka Tetungun karena baunya tidak terlalu menyengat. Rasanya juga enak dan tidak bikin enek,” kata Berto.
Hal senada disampaikan Noni, pembeli lainnya. Menurutnya, durian Tetungun cocok bagi penikmat durian yang kurang menyukai aroma tajam.
“Kalau Tetungun aromanya lebih ringan. Jadi lebih nyaman dimakan, apalagi buat yang sensitif sama bau durian,” ujarnya.
Durian Tetungun dijual dengan harga Rp 100 ribu untuk 3 hingga 4 buah, tergantung ukuran dan kualitas. Sementara durian kebun lainnya dijual dengan kisaran harga Rp 20 ribu hingga Rp 80 ribu per buah.
Ismail menjelaskan, durian yang ia jual berasal dari Lumbis Hulu dan Malinau. Durian dari Lumbis Hulu umumnya sudah matang dengan warna kuning, sedangkan durian asal Malinau cenderung masih berwarna hijau meski telah siap dikonsumsi.
Untuk mendatangkan durian dari Lumbis Hulu, durian diangkut menggunakan perahu menyusuri sungai selama 3 hingga 4 jam menuju Mansalong, sebelum dilanjutkan melalui jalur darat ke Malinau. Biaya angkut per perahu berkisar antara Rp 1 juta hingga Rp 3 juta.
Ismail mengaku telah berjualan durian hampir dua bulan, sejak sebelum Natal 2025. Keunikan rasa dan aroma durian Tetungun membuatnya menjadi salah satu durian favorit di musim durian tahun ini. (*/dip/lim)
Editor : Azward Halim