Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Patin dan Nila Jadi Andalan Budidaya Ikan Air Tawar di Malinau, Terlaris di Pasar Induk Malinau

Dip Ratar • Rabu, 14 Januari 2026 | 03:27 WIB
BUDI DAYA: Ikan Patin yang ada di Pasar Induk Malinau, salah satu komoditas paling diminati masyarakat Malinau.
BUDI DAYA: Ikan Patin yang ada di Pasar Induk Malinau, salah satu komoditas paling diminati masyarakat Malinau.

MALINAU – Ikan patin dan ikan nila menjadi komoditas utama dalam budidaya ikan air tawar di Kabupaten Malinau. Kedua jenis ikan tersebut paling banyak dibudidayakan karena dinilai sesuai dengan kebutuhan pasar serta relatif mudah dipelihara oleh pembudidaya lokal.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malinau, Dr. Afri mengatakan, budidaya ikan di Malinau selama ini menyesuaikan dengan permintaan dan kemampuan pembudidaya. Dari berbagai jenis ikan air tawar, patin dan nila menjadi pilihan utama karena tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi.

“Untuk budidaya ikan air tawar di Malinau, jadi yang paling umum dibudidayakan itu ada ikan patin dan ikan nila. Selain itu ada juga ikan lele, ikan mas, gurami, dan bawal, tapi jumlahnya tidak sebanyak patin dan nila,” ujarnya.

Ia menjelaskan, hasil budidaya ikan air tawar di Malinau umumnya dipasarkan secara langsung ke masyarakat. Sistem pemasarannya dilakukan dari orang ke orang, penjualan langsung ke konsumen, hingga dijual ke pasar ikan hidup di Malinau.

“Hasil budidaya ini selalu habis terserap pasar. Ada yang jual langsung, ada yang ke pasar, bahkan ada juga yang lewat media sosial,” jelasnya.

Dari sisi harga, Afri menyebutkan harga ikan budidaya bervariasi tergantung strategi penjualan pembudidaya. Untuk ikan patin, harga jual di tingkat pembudidaya berkisar antara Rp 27 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram jika dijual dalam jumlah besar atau ingin cepat habis. Sementara penjualan secara eceran atau melalui media sosial bisa mencapai Rp 35 ribu per kilogram.

Meski permintaan pasar cukup tinggi, produksi ikan budidaya di Malinau masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat. Keterbatasan kolam, pakan, serta benih menjadi kendala utama pembudidaya dalam meningkatkan kapasitas produksi.

“Permintaan ikan air tawar terus meningkat, tapi kemampuan produksi pembudidaya masih terbatas. Karena itu, dukungan pemerintah masih sangat dibutuhkan,” kata Afri.

Dinas Perikanan Malinau berharap pengembangan budidaya ikan patin dan nila dapat terus ditingkatkan sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus meningkatkan pendapatan pembudidaya ikan di Kabupaten Malinau. (*/dip/lim)

Editor : Azward Halim