Berdasarkan laporan Keadaan Angkatan Kerja Malinau 2025 lalu, sektor jasa menyerap 43,50 persen tenaga kerja, unggul tipis dibanding sektor pertanian yang berada di angka 43,48 persen. Perubahan ini dipicu oleh masuknya 2.925 pekerja baru ke sektor jasa, sementara sektor pertanian justru kehilangan 977 pekerja dalam satu tahun terakhir.
Kepala BPS Malinau, Yanuar Dwi Cristyawan mengatakan, tren pergeseran ini sebenarnya sudah terlihat dalam beberapa tahun terakhir dan mencapai titik puncaknya pada akhir 2025.
“Setiap tahun kita melihat pola tenaga kerja di sektor jasa meningkat secara perlahan. Pada 2025, jumlah tenaga kerja sektor jasa akhirnya melampaui pertanian, meskipun selisihnya masih sangat kecil, sekitar 0,02 persen,” ujarnya.
Meski penyerapan tenaga kerja di sektor jasa dan manufaktur meningkat, tantangan baru muncul dengan melonjaknya angka pengangguran. Sepanjang 2025, jumlah pengangguran di Malinau tercatat naik 17,2 persen.
Kondisi ini dipengaruhi oleh pertumbuhan angkatan kerja baru yang mencapai 2.990 jiwa atau meningkat 6,3 persen, sementara daya serap pasar kerja lokal belum sepenuhnya mampu mengimbangi pertumbuhan tersebut.
Selain pergeseran sektor, kualitas pendidikan tenaga kerja juga menjadi sorotan. Data BPS mencatat sebanyak 30,29 persen pekerja di Malinau masih didominasi lulusan sekolah dasar (SD) ke bawah.
Menurut Yanuar, meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat turut memengaruhi menurunnya minat tenaga kerja terhadap sektor pertanian. “Tenaga kerja dengan pendidikan rendah semakin berkurang, sementara lulusan SMA, diploma, dan universitas terus bertambah. Secara otomatis ketertarikan terhadap sektor pertanian menurun dan beralih ke sektor lain, terutama jasa,” jelasnya.
Di sisi lain, tren positif terlihat pada peningkatan tenaga kerja berpendidikan tinggi. Pekerja lulusan perguruan tinggi tercatat mencapai 17,42 persen atau bertambah sekitar 1.650 orang dibandingkan tahun sebelumnya.
Fenomena pergeseran tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor jasa ini mencerminkan transformasi ekonomi Malinau menuju struktur yang lebih modern. Namun, kondisi tersebut juga menuntut kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang lebih terampil agar peningkatan angkatan kerja tidak berujung pada lonjakan pengangguran. (*/dip/lim)
Editor : Azward Halim