MALINAU - Antrian panjang terjadi di sejumlah POM Mini dan pengecer BBM botolan di wilayah Malinau Kota. Kondisi ini dinilai tidak biasa dan memunculkan dugaan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), terlebih menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru yang identik dengan meningkatnya mobilitas masyarakat.
Salah satu warga, Ridwan mengaku kesulitan mendapatkan BBM sejak pagi hari. Ia menyebut antrean justru terjadi di POM Mini dan pengecer botolan, bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) seperti di kebanyakan daerah lain.
“Tadi pagi saya keliling cari botolan, tapi banyak antrean. Ini kan aneh sekali yah karena biasanya antre itu di SPBU. Artinya pasti ada masalah di pemasok BBM, seperti BBM langka,” ujarnya.
Berdasarkan hasil penelusuran Radar Tarakan, antrean di POM Mini dan pengecer BBM ini merupakan fenomena sosial ekonomi yang dipicu oleh terganggunya pasokan BBM ke wilayah Malinau. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa Kabupaten Malinau hingga kini belum memiliki SPBU.
Untuk memenuhi kebutuhan BBM, masyarakat Malinau mengandalkan pertashop yang hanya tersedia di beberapa wilayah dan belum merata.
Di antaranya Pertashop Respen Tubu dan pertashop di Malinau Kota yang melayani penjualan BBM jenis pertamax.
Sementara itu, sebagian besar kebutuhan BBM masyarakat masih bergantung pada POM mini dan pengecer.
Diketahui, pasokan BBM subsidi ke Malinau berasal dari Tarakan, sedangkan BBM industri disuplai dari Berau. Gangguan pasokan tersebut memicu kekhawatiran di tengah masyarakat dan berujung pada panic buying.
Hal ini terlihat dari banyaknya warga yang mengantre menggunakan jerigen berkapasitas hingga 5 liter di sejumlah POM Mini di wilayah Malinau Kota.
Kondisi kelangkaan BBM ini disayangkan masyarakat karena berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi dan mobilitas warga, terutama menjelang momentum Natal dan Tahun Baru yang biasanya diiringi dengan peningkatan kebutuhan. (*/dip/lim)
Editor : Azward Halim