Lokakarya dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Malinau, Sergius. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa perubahan iklim merupakan tantangan global yang dampaknya semakin dirasakan hingga ke daerah, sehingga dibutuhkan pendekatan edukasi yang dekat dengan masyarakat.
Menurut Sergius, TBM memiliki peran strategis sebagai pusat pembelajaran warga. Selain menjadi tempat membaca, TBM dinilai mampu menjadi ruang edukasi kontekstual yang memperkuat pemahaman masyarakat tentang isu lingkungan dan perubahan iklim.
“TBM bukan hanya tempat membaca, tetapi juga ruang edukasi yang menjangkau masyarakat secara langsung. Melalui integrasi program kerja TBM dengan edukasi perubahan iklim, kita berharap lahir generasi yang lebih peduli lingkungan dan siap menghadapi tantangan ke depan,” ujarnya.
Kegiatan ini diikuti berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perangkat daerah, mitra pembangunan, komunitas literasi, pengelola TBM, hingga perwakilan desa. Peserta terlibat aktif dalam diskusi dan penyusunan rancangan program TBM yang mengaitkan literasi dengan isu-isu lingkungan sesuai kondisi lokal.
Melalui lokakarya ini, Pemkab Malinau berharap terbangun kolaborasi lintas sektor, tersusunnya model program TBM yang aplikatif dan berkelanjutan, serta meningkatnya kapasitas pengelola TBM dalam menghadirkan kegiatan literasi yang kreatif dan berdampak bagi masyarakat.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Malinau optimistis ekosistem literasi daerah semakin kuat dan mampu berkontribusi nyata dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. (*/dip/lim)
Editor : Azward Halim