MALINAU — Pendidikan kembali menjadi perhatian utama bagi masyarakat adat di wilayah perbatasan Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau.
Warga meminta Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) mengaktifkan kembali kegiatan belajar non-formal Sekolah Alam Ujung Negeri (SAUNG) yang sejak 2019 menjadi ruang pembelajaran konservasi dan teknologi bagi anak-anak di kawasan penyangga TNKM.
Program SAUNG yang digagas dan dikelola secara swadaya oleh pegawai Balai TNKM terhenti akibat pandemi Covid-19 serta perubahan struktur organisasi di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Padahal, keberadaan SAUNG dinilai masyarakat sangat penting untuk pendidikan generasi muda, terutama di daerah terpencil yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan konservasi.
Dalam pertemuan dengan Kepala Balai TNKM di Desa Long Alango, Kepala Adat Besar Bahau Hulu Baya Ajang menyampaikan bahwa SAUNG telah memberikan manfaat signifikan bagi anak-anak.
Ia berharap program tersebut kembali dijalankan dengan materi yang lebih kaya tentang konservasi.
“Kami sebagai orang tua senang dan bangga dengan adanya Saung. Kami berharap Saung ini kembali dilaksanakan karena menambah ilmu anak-anak kami. Kalau dimulai lagi, supaya lebih banyak materi mengenai Taman Nasional Kayan Mentarang, khususnya di wilayah Bahau Hulu,” ujarnya.
Pengakuan serupa disampaikan Sumardi, Sekretaris Desa Long Alango. Ia melihat adanya perubahan perilaku anaknya saat mengikuti SAUNG, terutama dalam hal kedisiplinan.
“Sebelumnya kami masih harus mengingatkan waktu belajar. Tetapi setelah ikut Saung, justru anak yang meminta untuk datang tepat waktu,” ungkapnya Mardi.
Sumardi juga mengusulkan agar Balai TNKM berkolaborasi dengan pemerintah desa untuk menyediakan tempat belajar yang lebih layak serta memperluas peserta hingga tingkat SMA, terutama untuk pengenalan langsung keanekaragaman hayati di kawasan TNKM.
Kepala Balai TNKM Seno Pramudito, menyambut baik permintaan warga. Ia menegaskan bahwa SAUNG memiliki peran strategis dalam mengenalkan fungsi taman nasional dan pentingnya konservasi bagi masyarakat yang hidup di sekitar kawasan hutan.
“Tentu kami mendukung pengaktifan Saung. Program ini bermanfaat bagi anak-anak dan generasi muda, termasuk pembelajaran teknologi dan pengetahuan tentang Taman Nasional Kayan Mentarang,” tegas Seno.
Sebelumnya, kegiatan SAUNG memanfaatkan Visitor Center SPTN II Long Alango sebagai ruang belajar.
Dari tempat ini, anak-anak mendapatkan pengetahuan yang berbeda dari sekolah formal, termasuk cara menjaga hutan, menghargai kearifan lokal, dan memanfaatkan hasil hutan secara lestari.
Dengan dukungan masyarakat dan komitmen Balai TNKM, harapan untuk menghidupkan kembali SAUNG semakin kuat.
Program ini diharapkan kembali menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda perbatasan serta memperkuat kesadaran konservasi demi keberlanjutan hutan Kayan Mentarang. (*dip)
Editor : Azwar Halim