MALINAU — Program Pertanian Sehat (Pesat) terus menunjukkan perkembangan sepanjang 2025. Program ini terus menggalakkan pemanfaatan lahan tidur menjadi lahan produktif, sebagai langkah menuju daerah swasembada. saat ini terdapat 380 personel Satgas Pesat yang bekerja di empat kecamatan dengan fokus pada tiga komoditas utama yaitu padi sawah, jagung, dan cabai.
Hingga akhir November, target pembukaan telah mencapai 200 hektare atau 50 hektare per kecamatan dengan produktivitas rata-rata 3 ton per hektare, potensi produksi dari lahan tersebut mencapai 600 ton gabah untuk mendukung kebutuhan Rasda Plus.
Untuk komoditas jagung, tiap kecamatan ditargetkan membuka 8 hektare, dan seluruhnya telah terpenuhi bahkan melampaui target.
Jagung hasil Satgas ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 47 ton bahan baku pakan ternak. Sebagian lahan di Malinau Barat telah memasuki tahap pengeringan dan diperkirakan panen pada akhir November.
Bupati Malinau Wempi W. Mawa menegaskan pentingnya transformasi ekonomi daerah dari ketergantungan pada sektor tambang menuju sektor pertanian, peternakan, perkebunan, dan perikanan. Hal itu ia sampaikan saat menghadiri Panen Jagung Perdana Satgas Pesat Kelompok 2 di Tajan, Tanjung Lapang, Kecamatan Malinau Barat.
Dalam kesempatan tersebut, Wempi mengingatkan bahwa keberlangsungan industri batubara di Malinau tidak akan bertahan lama. Beberapa perusahaan besar, menurutnya, diperkirakan hanya memiliki waktu operasi beberapa tahun lagi.
“Perusahaan KPUC itu 3 atau 4 tahun habis. MAH juga tinggal berapa tahun. Batu bara itu tinggal berapa tahun?” tegasnya.
Karena itu, ia mendorong seluruh elemen masyarakat, termasuk Satgas Pesat, untuk mulai melihat sektor pertanian sebagai masa depan perekonomian daerah.
Wempi menjelaskan bahwa Program Pertanian Sehat (Pesat) yang saat ini melibatkan ratusan Satgas merupakan pondasi awal untuk pergeseran struktur ekonomi Malinau. Program ini dinilai mampu membuka lahan-lahan produksi baru, meningkatkan kapasitas petani, serta memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Suatu saat nanti kapal-kapal yang masuk ke Kabupaten Malinau tidak lagi mengangkut batubara, tapi produk pertanian, peternakan, perkebunan, dan perikanan dari Malinau. Itu arah kita,” ujarnya.
Menurutnya, sektor pangan memiliki peluang pertumbuhan jauh lebih panjang dan stabil dibandingkan komoditas tambang yang bersifat sementara dan terbatas.
Bupati menegaskan bahwa Satgas Pesat tidak hanya bertugas meningkatkan produksi pertanian, tetapi juga menjadi bagian dari strategi besar pemerintah menjadikan Malinau sebagai Swasembada Pangan.
“Kalau kita bisa mengelola hulunya dan hilirnya, kita pasti sejahtera. Pesat bukan hanya program tanam-menaman, tapi program membangun ekonomi Malinau,” jelasnya.
Wempi juga menjelaskan bahwa Pemkab Malinau menargetkan transformasi ekonomi secara menyeluruh dalam beberapa tahun ke depan. Visi besar ini diarahkan agar Malinau menjadi kabupaten mandiri, damai, dan sejahtera tanpa ketergantungan pada industri tambang.
“Saya ingin ke depan bukan lagi batubara yang keluar dari Malinau, tetapi hasil pertanian, ternak, dan perikanan kita. Itu masa depan Malinau,” ucapnya.
Dengan arah kebijakan tersebut, Pemkab Malinau berharap transformasi ekonomi dapat berjalan lebih cepat, memberikan lapangan pekerjaan lebih luas, dan mengangkat kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (*dip)
Editor : Azwar Halim