MALINAU – Event Mural Anti Korupsi dalam rangka memperingati Hari Antikorupsi Sedunia 2025 di Kabupaten Malinau berlangsung riuh deretan mural dengan kritik keras mulai rampung di lukis.
Bertempat di Siring Beton PDAM, Desa Kuala Lapang, Malinau Barat, kegiatan yang dimulai sejak Jumat (21/11) itu diikuti sekitar 30 peserta dari berbagai instansi, komunitas seni, hingga pelajar.
Salah satu peserta, Fany Kristi Paula dari SMAN 1 Malinau, bersama tim beranggotakan empat orang, menghadirkan mural dengan kritik sosial yang kuat terhadap praktik korupsi.
Mereka mengangkat simbol tikus sebagai representasi pelaku korupsi, ditempatkan di dalam lubang besar yang digambarkan sedang dipalu oleh masyarakat simbol perlawanan Malinau terhadap korupsi.
“Di mural itu kami gambarkan tikus berada di dalam lubang yang sedang dipalu dan dibuka lebar. Palu itu melambangkan masyarakat Malinau yang ingin melawan korupsi, ingin menunjukkan bahwa sisi gelap korupsi ini banyak,” jelasnya kepada Radar Tarakan, Minggu (23/11).
Mural tersebut juga memuat tiga ilustrasi mengenai dampak nyata korupsi. Pada bagian bawah, mereka menggambarkan situasi demonstrasi atau perpecahan sosial akibat hilangnya kepercayaan masyarakat.
Di bagian samping, divisualkan inflasi, kenaikan harga, hingga tunjangan yang juga terdampak oleh praktik korupsi. Sementara pada bagian atas mural, mereka menyoroti kesenjangan sosial yang semakin lebar antara kelompok kaya dan miskin.
Fany pun menyampaikan apresiasinya kepada Pemerintah Kabupaten Malinau yang memberi ruang bagi pelajar untuk berkarya sekaligus menyampaikan pesan moral.
“Dengan adanya kegiatan ini, kami bisa semakin maju mengembangkan seni di Malinau, terutama mural. Ini sangat membantu karena orang yang lewat bisa langsung melihat dan memahami pesan yang disampaikan. Apalagi temanya anti korupsi, jadi kita bisa bersama-sama membangun persatuan untuk memberantas korupsi ini,” tutupnya. (*dip)
Editor : Azwar Halim