MALINAU– Upaya pemulihan akses transportasi sungai bagi masyarakat di pedalaman Kecamatan Pujungan dan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, terus dilakukan oleh pemerintah daerah bersama jajaran TNI. Peledakan atau blasting terhadap batu-batu besar yang menutup alur Sungai Bahau akan di lanjutkan dan menjadi prioritas, guna memastikan distribusi barang kebutuhan pokok tidak terhambat menjelang Natal dan Tahun Baru.
Bupati Malinau Wempi W. Mawa mengungkapkan, pemerintah daerah bergerak cepat diawal dan berkoordinasi dengan Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Rudy Rachmat Nugraha untuk menangani dampak longsor yang menyebabkan terbentuknya giram baru di Sungai Bahau. Atas instruksi Pangdam, satuan Yonzipur 17/Ananta Dharma diterjunkan ke lokasi bersama Kodim 0910/Malinau, BPBD, dan sejumlah instansi teknis terkait.
“Tim sudah bekerja sejak bulan lalu. Mereka berhasil meledakkan beberapa batu besar berukuran 7 meter dan 4 meter dengan berat sekitar 20 ton,” jelasnya.
Tim peledakan akan beroperasi untuk melanjutkan pekerjaan di titik-titik yang tersisa. Menurut Wempi, kondisi arus sungai yang sulit diprediksi menjadi kendala utama dalam penyelesaian pekerjaan.
“Oh ya, memang sempat terhenti karena kondisi air yang berubah-ubah, tapi kita tetap berusaha. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa tertangani, karena ini penting untuk menjaga stabilitas harga sembako di pedalaman menjelang Desember,” ujarnya.
Wempi menegaskan, akses sungai merupakan jalur utama transportasi warga di wilayah perbatasan. Pemerintah juga telah menyiapkan kebijakan tambahan, salah satunya membangun pos singgah sementara bagi warga yang terpaksa menunda perjalanan akibat kondisi sungai.
“Kalau air surut sekali memang jadi masalah lagi, karena peledakan belum sampai ke titik yang direncanakan. Tapi pada saat air tertentu, sudah bisa dilalui dengan baik karena beberapa batu sudah berhasil diurai,” jelasnya.
Terkait penanganan teknis, Wempi memastikan pelaksanaan peledakan tetap ditangani oleh personel TNI yang memiliki kemampuan khusus.
“Saya yakin mereka yang paling tepat menangani ini, karena lokasi giram berada di kawasan yang tidak memungkinkan alat berat masuk,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Malinau berharap pekerjaan dapat rampung sebelum Desember, sehingga distribusi logistik dan bahan pokok ke wilayah pedalaman dapat kembali normal. (*dip)
Editor : Azwar Halim