Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Representasi Identitas Budaya Dayak Lundayeh melalui Prosesi Ngikit Fadan Liu Burung pada Festival Irau Malinau

Dip Ratar • Selasa, 14 Oktober 2025 | 20:56 WIB
DIPA/RADAR TARAKAN BUDAYA: Pasukan Seribu atau Baweh Meribu mengiringi langkah Fadan Liu Burung memasuki prosesi adat
DIPA/RADAR TARAKAN BUDAYA: Pasukan Seribu atau Baweh Meribu mengiringi langkah Fadan Liu Burung memasuki prosesi adat

MALINAU – Festival Budaya Irau ke-11 Kabupaten Malinau kembali menjadi ruang ekspresi budaya masyarakat adat.

Pada hari kedua pelaksanaan, Rabu lalu (8/10), Dayak Lundayeh menampilkan prosesi adat sakral Ngikit Fadan Liu Burung Kuu Radcha Bawang Idi Nued Tana, yang bermakna penobatan pemimpin wilayah dan pengukuhan janji dengan tanah atau alam. Prosesi ini tidak hanya bernilai pertunjukan budaya, tetapi juga menjadi manifestasi identitas, struktur sosial, dan filosofi hidup masyarakat Lundayeh.

Ribuan masyarakat Lundayeh hadir memenuhi Lapangan Prosehat sejak pagi hari, mengenakan busana dan atribut adat.

Mereka mengikuti prosesi yang dibuka dengan kehadiran Pasukan Seribu atau Baweh Meribu, yang tampil mengitari arena dengan tameng, tombak, dan felefet (golok tradisional).

Kehadiran pasukan ini tidak sekadar simbol kekuatan fisik, tetapi juga mencerminkan soliditas komunal, kehormatan leluhur, dan kesetiaan pada adat istiadat.

Prosesi adat dipimpin oleh Lembaga Adat Dayak Lundayeh, Paul Belapang, menjelaskan bahwa prosesi dimulai dengan Ngukab Tebuku, yaitu ritual penyambutan tokoh yang akan dinobatkan sebagai Fadan Liu Burung. Dalam prosesi ini, Bupati Malinau Wempi W. Mawa berperan sebagai tokoh yang menerima mandat adat.

"Upacara ini menggambarkan penghormatan tertinggi masyarakat kepada calon pemimpin yang dianggap mampu membawa kesejahteraan dan menjaga keseimbangan dengan alam," ujar Paul.

Rangkaian ritual berlanjut pada Neteng Mengei (doa-mantra adat), Ngetu’ Feu Bulat (ucapan penghormatan), serta Netek Uwe, yaitu pemotongan rotan sebagai simbol pembuka jalan menuju tanggung jawab kepemimpinan.

Puncak prosesi ditandai dengan pemasangan atribut kebesaran adat, yaitu Fata Sigar (penutup kepala sebagai simbol kebijaksanaan), Bakad Talun (jubah kepemimpinan),
Busu (tombak simbol keberanian), dan Utap (perisai pelindung masyarakat).

Setelah itu dilakukan Natak Jani atau Tengadan, yaitu ikrar yang memuat janji pemimpin kepada masyarakat dan alam.

Prosesi dilanjutkan dengan Fekuab (syair adat) dan Nued Tana’, sebagai permohonan restu kepada penjaga alam semesta. Tanda peneguhan sumpah adat dilakukan melalui Ngelua, yaitu pengolesan darah hewan kurban untuk menyatukan ikatan manusia dengan alam.

Menurut penyusun skenario prosesi, Dolvina Damus, upacara ini mengandung makna filosofis yang kuat.

"Esensinya bukan semata seremoni, tetapi pengukuhan hubungan harmonis antara manusia, leluhur, dan alam yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Lundayeh," jelasnya.

Acara ditutup dengan Tari Kolosal Adat Lundayeh yang melibatkan ratusan penari. Tarian ini menggambarkan penghormatan terhadap tiga sumber kehidupan masyarakat Dayak yaitu tanah, hutan, dan air.

Festival budaya Irau ke-11 tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya lokal, tetapi juga berfungsi sebagai media edukasi publik mengenai nilai kearifan lokal dan filosofi spiritual masyarakat Dayak Lundayeh.

Melalui penyajian prosesi adat yang kaya makna, budaya Lundayeh tidak hanya diwariskan, tetapi juga dikenalkan sebagai identitas budaya yang hidup dan dinamis dalam bingkai keberagaman Indonesia. (*dip)

Editor : Azwar Halim
#festival irau #kaltara #malinau