Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Mengenal Adat Ufah Dayak Kayan Dari Festival Budaya Irau ke-11 Malinau, Warisan Nilai Kepemimpinan Leluhur

Dip Ratar • Jumat, 10 Oktober 2025 | 19:29 WIB
DIPA/RADAR TARAKAN ADAT: Persiapan prosesi Adat Kayan dalam Festival Budaya Irau ke 11
DIPA/RADAR TARAKAN ADAT: Persiapan prosesi Adat Kayan dalam Festival Budaya Irau ke 11

MALINAU – Tradisi adat kembali menjadi sorotan pada pergelaran Festival Budaya Irau ke-11 Kabupaten Malinau. Lembaga Adat Suku Dayak Kayan menampilkan Upacara Adat Ufah, sebuah ritual sakral peninggalan leluhur yang sarat nilai budaya dan filosofi kehidupan.

Upacara ini merupakan tradisi kuno masyarakat Dayak Kayan pada masa kepercayaan kepada Dewa Bungan Malan, yang berfungsi sebagai upacara pentahbisan bagi anak laki-laki berusia enam bulan hingga satu tahun sebagai calon pemimpin masa depan.

Dahulu pelaksanaan upacara dilakukan di luar rumah panjang (umaq lengar), tepatnya pada sebuah kemah sederhana beratap daun sang atau alang-alang. Prosesi dimulai sejak pagi hari sekitar pukul 08.00 WITA dan dipimpin oleh seorang tetua adat atau kakek yang telah berjaya dalam pertempuran.

Dalam prosesi ini, para ibu membawa anak laki-laki mereka dan menunggu giliran untuk ditabiskan.

Sang pemimpin adat kemudian menyiramkan air telang keliman ke tubuh sang anak. Air ini dipercaya membawa perlindungan dari para dewa serta restu Bungan Malan sehingga sang anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, tegas, berani, dan berwibawa saat dewasa kelak.

Mengawali prosesi adat, masyarakat Dayak Kayan wajib mendirikan Bakin Kelikah, yaitu tombak pusaka sebagai simbol dimulainya upacara sakral.

Bakin Kelikah dibuat dari besi keluh dengan panjang satu meter yang ditancapkan pada tiang kayu merang atau kayu gare setinggi empat meter.

Selama prosesi berlangsung, tidak satu pun orang diperbolehkan menyentuh atau merebahkan Bakin Kelikah karena dianggap sebagai penjaga kesucian upacara. Jika Bakin Kelikah diturunkan, maka upacara adat dinyatakan selesai.

Dalam upacara ini, masyarakat juga menampilkan Hudoq Aruq, sosok spiritual dalam kepercayaan Dayak Kayan yang diyakini sebagai penjelmaan para dewa dari kayangan.

Kemunculannya membawa pesan perdamaian, kebahagiaan, kesuburan bagi tanaman, kesejahteraan manusia, serta sebagai penolak penyakit dan ancaman permusuhan. Kehadiran Hudoq Aruq selalu diiringi oleh tarian tradisional Hifan Sau yang dibawakan oleh laki-laki serta Hifan Jat Alat yang dimainkan oleh para perempuan dengan pola hentakan kaki yang khas.Kedua tarian ini merupakan ungkapan rasa syukur atas kehidupan yang damai dan sejahtera.

Sebagai bentuk kegembiraan atas terlaksananya Upacara Adat Ufah, masyarakat Dayak Kayan turut menampilkan beberapa tarian tradisional lainnya seperti Tarian Uyang Lahai, Tarian Tufung, Tarian Alu, Tarian Hudoq Aruq, dan Tarian Perang yang menggambarkan jiwa kepahlawanan dan kebersamaan masyarakat adat.

Penampilan upacara ini sekaligus menjadi wujud komitmen masyarakat Dayak Kayan dalam melestarikan tradisi warisan leluhur di tengah arus modernisasi.

Melalui momentum Festival Irau ke-11, Ketua Persekutuan Lembaga Adat Dayak Kayan Malinau, Ping Ding menegaskan bahwa pelestarian adat merupakan bagian penting dalam pembangunan karakter generasi muda. "Upacara ini bukan hanya atraksi budaya, namun juga pewarisan nilai, identitas, dan kebanggaan sebagai orang Kayan," ujarnya. (*dip)

Editor : Azwar Halim
#kaltara #adat dayak #Irau Malinau