MALINAU – Tim terpadu kembali melanjutkan rencana peledakan Giram Sungai Bahau di Kecamatan Pujungan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, Kamis (2/10). Giram tersebut terbentuk akibat longsor besar pada 22–23 Juli lalu.
Material batu berukuran puluhan ton menutup jalur sungai dan memutus akses transportasi vital masyarakat pedalaman. Upaya penanganan kembali dilakukan setelah debit air mulai menurun pada awal Oktober 2025. Tahap pertama sebelumnya telah dilaksanakan sejak 13 September 2025.
Bupati Malinau, Wempi W. Mawa mengatakan, tim gabungan TNI bersama Pemkab membawa perlengkapan tambahan ke lokasi sejak Rabu (1/10). Tahap persiapan kini difokuskan agar proses peledakan berjalan lebih efektif.
Menurutnya, kendala utama bukan hanya faktor cuaca ekstrem, tetapi juga pasang surut sungai yang membuat material longsoran sulit dijangkau. Kondisi tersebut berulang kali menunda pelaksanaan peledakan.
"Peledakan hanya bisa dilakukan saat permukaan air turun. Kalau masih tinggi, lokasi material tidak terlihat," ujarnya kepada Radar Tarakan, Kamis (2/10).
Wempi menegaskan, pemerintah tidak menargetkan normalisasi penuh sungai, melainkan membuka jalur aman agar masyarakat dapat kembali melintas. Pasalnya, batu yang menutup aliran sungai berukuran hingga 20 ton, sementara medan curam membuat jalur darat belum bisa dijadikan alternatif.
"Yang penting akses kembali terbuka, baik saat air kecil maupun besar," katanya.
Pemerintah bersama masyarakat sebelumnya telah membuka pos darurat di sekitar Giram Baru. Fasilitas ini digunakan warga sebagai tempat singgah sementara.
Bupati Wempi menyampaikan terima kasih atas dukungan jajaran TNI dan berharap peledakan kali ini benar-benar mengurangi hambatan di Sungai Bahau. Ia menekankan, akses transportasi sungai sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup masyarakat pedalaman. (*dip)
Editor : Azwar Halim