Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Perempuan Punan Sungai Tubu Jadi Garda Terdepan Menjaga Warisan Budaya dan Penggerak Roda Ekonomi Keluarga

Dip Ratar • Minggu, 28 September 2025 | 22:11 WIB
PENJAGA BUDAYA: Berberapa kerajinan khas Sungai Tubu yang buat oleh Perempuan dari desa-desa pedalaman, FOTO:ISTIMEWA
PENJAGA BUDAYA: Berberapa kerajinan khas Sungai Tubu yang buat oleh Perempuan dari desa-desa pedalaman, FOTO:ISTIMEWA

MALINAU – Perempuan Punan Kecamatan Sungai Tubu tampil sebagai garda terdepan menjaga warisan budaya sekaligus menggerakkan roda ekonomi keluarga.

Wilayah Sungai Tubu sendiri dihuni mayoritas oleh Suku Dayak Punan yang masih kuat memegang tradisi leluhur.

Menjelang Festival Budaya Irau 2025, mereka tak hanya menganyam dan membuat kerajinan tradisional, tetapi juga menyiapkan beragam produk olahan khas untuk dipamerkan kepada pengunjung.

Camat Sungai Tubu, Jimmy Sakay menyampaikan, sejak Juni lalu pihaknya bersama kepala desa sudah turun ke lapangan mengajak masyarakat mempersiapkan produk unggulan. "Antusiasme perempuan sangat luar biasa.

Mereka menganyam tikar rotan, membuat anjat, bakul, serta kerajinan kayu seperti du’a sendok kayu khas Sungai Tubu, hingga memanfaatkan daun penyedap rasa dari hutan," ujarnya.

Karakter masyarakat Sungai Tubu memang unik, laki-laki banyak bekerja di hutan dan berladang sementara perempuan tetap tinggal di kampung untuk mengurus rumah tangga dan menganyam berbagai kerajinan tradisional.

Pola pembagian peran ini membuat kerajinan khas seperti tikar rotan, anjat, bakul, dan du’a tetap lestari secara turun-temurun.

Produk-produk tersebut berasal dari desa-desa di Sungai Tubu seperti Long Nyau, Rian Tubu, dan Long Titi, masing-masing dengan ciri khasnya sendiri.

"Perempuan kita bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga menunjukkan bahwa kerajinan tangan Sungai Tubu punya nilai ekonomi," tambah Jimmy.

Sebagai bentuk apresiasi, pihak kecamatan telah membeli seluruh produk kerajinan tangan masyarakat Sungai Tubu. Produk tersebut kemudian akan dibagikan sebagai door prize kepada pengunjung yang datang ke stand.

"Dengan pola ini masyarakat tidak perlu khawatir barangnya tidak laku. Semua sudah dibeli panitia, dan pengunjung bisa membawa pulang produk khas Sungai Tubu secara gratis," jelasnya.

Selain menyiapkan kerajinan, perempuan Sungai Tubu juga berperan menjaga semangat warga agar tetap antusias mengikuti rangkaian kegiatan Irau.

"Ini bukan sekadar pameran budaya, tetapi ajang memperkenalkan kecamatan kami kepada masyarakat luas, yang selama ini menganggap kami daerah terluar" ujarnya.

Festival Budaya Irau ke-11 Kabupaten Malinau menjadi momentum penting untuk mempromosikan Sungai Tubu, baik dari sisi budaya, potensi alam, maupun kreativitas masyarakatnya.

Melalui tangan-tangan perempuan inilah pesan budaya Sungai Tubu terus tersampaikan, tradisi terjaga, dan dampak ekonomi nyata dirasakan keluarga. (*dip)

Editor : Azwar Halim
#kaltara #roda ekonomi #warisan budaya #malinau #Perempuan Punan Sungai Tubu