Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Satgas PESAT Jadi Jawaban atas Ketergantungan Impor, Malinau Menuju Swasembada dan Ekspor Beras

Dip Ratar • Kamis, 7 Agustus 2025 | 20:42 WIB
Bupati Kabupaten Malinau, Wempi W. MawaFOTO:DIPA/RADAR TARAKAN
Bupati Kabupaten Malinau, Wempi W. MawaFOTO:DIPA/RADAR TARAKAN

MALINAU – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau melalui program Pertanian Sehat (PESAT) terus menggalakkan pemanfaatan lahan tidur menjadi lahan produktif, sebagai langkah menuju daerah swasembada dan pengekspor beras.

Untuk itu terbentuknya Satgas Pesat menjadi tombak utama dalam program Pesat ini.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, pada tahun 2024, produksi beras di Malinau mencapai sekitar 4.549,24 ton per tahun atau 379,10 ton per bulan.

Sementara itu, rata-rata konsumsi beras masyarakat mencapai 688 ton per bulan, bahkan bisa menyentuh 700 ton saat hari besar keagamaan. Konsumsi terbesar berasal dari rumah tangga sekitar 600 ton, sisanya dari sektor non rumah tangga.

Kondisi ini menunjukkan Malinau masih defisit sekitar 309 ton beras per bulan dan baru mampu memenuhi 55 persen kebutuhan dari produksi lokal, ketergantungan terhadap pasokan beras luar daerah masih tinggi.

Bupati Malinau, Wempi W. Mawa, menjelaskan, ia ingin menjadikan Malinau tidak lagi bergantung pada impor, melainkan mampu mengekspor hasil pertanian, khususnya beras, serta dapat mewujudukan Swasembada pada bidang ketahanan pangan.

"Ya jadi begini, program PESAT ini adalah satu program yang kita gagas ya, di dalam priorisasi saya terpilih ini masuk bulan ke-6 saya menjadi kepala daerah dan memang tahapan ini," katanya.

Ia juga menerangkan bahwa program dimulai dari rekrutmen tenaga terampil yang kini dikenal sebagai Satgas PESAT, dilatih dan diturunkan langsung untuk mengelola lahan-lahan tidur menjadi produktif.

Hingga saat ini, sebanyak 200 lebih Satgas PESAT telah direkrut dan ditugaskan di empat kecamatan, dengan target pemanfaatan lahan seluas 45 hektare.

"Kami mulai dimulai dengan tahapan rekrutmen, tenaga trampilnya yang kita latih, yang kita siapkan untuk berada di lahan-lahan tidur selama ini yang kita kelola menjadi lahan produktif," ujarnya.

Tanaman yang menjadi fokus utama antara lain gabah atau padi. Bupati menejelaskan bahwa program ini berjalan sejalan dengan prioritas nasional di sektor pertanian dan pangan.

"Ada beberapa target tanaman yang kita tanam mulai dari gabah, padi itu sendiri, jagung yang juga sejalan dengan program nasional, baik itu pada sektor-sektor perkebunan, sayur-mayur termasuk lombok itu kita rencanakan dan itu sudah kita mulai kerjakan," lanjutnya.

Wempi optimistis jika lahan terus digarap secara optimal, hasil pertanian akan meningkat dan mampu memenuhi target besar Malinau di masa mendatang.

"Saya kemarin sudah melakukan penanaman perdana bersama dengan teman-teman Satgas PESAT. Kita percaya bahwa produksi yang semakin luas ini, lahan pertanian yang semakin optimal kita garap ini, ya pada saatnya akan memberi dampak terhadap produksi kepada target-target yang ingin kita capai," terangnya.

Meski begitu, program ini masih dalam tahap awal dan membutuhkan proses waktu. Salah satu tantangan utama adalah iklim dan cuaca.

"Memang tantangannya juga iklim hari ini, curah hujan akhir-akhir ini memang sangat jarang. Berpotensi mengganggu produksi kita, baik itu tanah sawah maupun tanah darat atau ladang darat, tanah gunung," pungkasnya. (*dip)

Editor : Azwar Halim
#Satgas Pesat #kaltara #ekspor beras #malinau #swasembada