Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Giram Baru Persulit Jalur Logistik, Harga Sembako dan BBM di Dua Kecamatan di Malinau Diprediksi Naik

Radar Tarakan • Rabu, 2 Juli 2025 | 20:48 WIB
ISTIMEWA DAMPAK: Suasana pembersihan pohon tumbang dan batu-batuan yang membuat giram baru oleh Tim Gabungan dipimpin oleh Bupati Wempi.
ISTIMEWA DAMPAK: Suasana pembersihan pohon tumbang dan batu-batuan yang membuat giram baru oleh Tim Gabungan dipimpin oleh Bupati Wempi.

MALINAU – Dampak bencana longsor di aliran Sungai Bahau yang kini dikenal warga sebagai Giram Baru mulai terasa secara langsung di tengah masyarakat.

Tidak hanya mengisolasi akses 15 desa di dua kecamatan, harga sembako, BBM, dan kebutuhan pokok lainnya diprediksi akan mengalami kenaikan akibat terhambatnya jalur distribusi.

Bupati Malinau, Wempi W. Mawa, mengungkapkan bahwa gangguan transportasi sungai menyebabkan suplai barang ke wilayah pedalaman melambat drastis.

Longboat sebagai satu-satunya moda angkut utama di wilayah tersebut kini hanya bisa melintas secara terbatas, dan itupun dengan beban serta risiko tinggi.

"Ini pasti berdampak terhadap banyak hal di sana. Kami sudah mendapat laporan akan adanya kenaikan harga material, sembako, hingga BBM," katanya.

Camat Bahau Hulu, Viktor Romawan, memperkuat laporan tersebut. Ia menyebutkan bahwa saat ini berkurangnya aktivitas longboat dari wilayah Bahau Hulu menuju pusat distribusi di Tanjung Selor.

Hal ini sangat mengkhawatirkan, mengingat jalur sungai adalah satu-satunya akses logistik ke desa-desa di wilayah itu.

"Akan ada kenaikan harga barang dan ini sangat potensial untuk terus naik. Karena saat ini longboat dari Bahau Hulu tidak ada aktivitas ke Tanjung Selor," ujarnya.

Kelangkaan barang pokok dan BBM dikhawatirkan akan terjadi dalam waktu dekat.

Tidak sedikit ABK dan motoris longboat yang tidak ingin melintas karena arus sungai sangat berisiko akibat tumpukan batu dan kayu sisa longsor. Hal ini mengakibatkan distribusi barang semakin sulit.

Menurut Viktor, para motoris akan meminta kenaikan ongkos jasa angkut karena waktu tempuh menjadi lebih lama dan rute lebih berbahaya. Hal ini langsung berdampak pada biaya distribusi, yang pada akhirnya membebani masyarakat.

"Karena kondisi di Giram ini sangat berisiko, banyak motoris yang tidak berani lewat. Jadi wajar kalau mereka minta ongkos lebih, dan ini akan berdampak pada harga barang. Waktu pengangkutan pun jadi lebih lama dari biasanya," jelas Viktor.

Selain waktu tempuh yang membengkak, proses bongkar-muat kini harus dilakukan secara estafet dan manual, bahkan memikul barang sejauh ratusan meter di medan terjal.

Ini menambah beban logistik yang ditanggung pengusaha lokal maupun warga penerima barang. (*dip)

Editor : Azwar Halim
#bbm #kaltara #jalur logistik #malinau #dua kecamatan #sembako