Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Sudah Sebulan Mahal, Bawang Merah Masih Rp 65 Ribu, Bawang Putih Justru Turun Drastis di Malinau

Radar Tarakan • Jumat, 27 Juni 2025 | 21:38 WIB
DIPA/RADAR TARAKAN MASIH MAHAL: Harga bawang merah dipasar induk malinau dari sebulan lalu yang masih cukup mahal dan belum kembali stabil.
DIPA/RADAR TARAKAN MASIH MAHAL: Harga bawang merah dipasar induk malinau dari sebulan lalu yang masih cukup mahal dan belum kembali stabil.

 

MALINAU – Harga bawang merah di Kabupaten Malinau masih belum menunjukkan penurunan. Selama hampir satu bulan terakhir, harga tetap tinggi di kisaran Rp 60.000 hingga Rp 65.000 per kilogram. Sebelumnya kenaikan ini disebabkan oleh gagalnya panen di sejumlah sentra produksi seperti Bima (NTB) dan wilayah Sulawesi akibat cuaca buruk dan banjir.

Kepala Bagian Perdagangan Disperindagkop Malinau, Yeni, membenarkan bahwa pasokan terganggu akibat kondisi cuaca yang memengaruhi produksi di daerah penghasil.

Sementara itu, pedagang di Pasar Induk Malinau, Eti Sumiati, mengaku belum ada kepastian dari pihak Disperindagkop terkait stabilisasi harga.

"Harga bawang masih mahal sudah mau sebulan ini. Dari Disperindagkop belum ada info, masih di harga Rp 60 ribu sampai Rp 65 ribu," ujarnya.

Eti menambahkan, pasokan bawang merah baru akan masuk sekitar satu minggu lagi. Di sisi lain, bawang putih justru mengalami penurunan harga signifikan. Dari sebelumnya Rp 45.000 per kilogram, kini turun menjadi Rp 38.000 hingga Rp 40.000.

Kenaikan harga ini juga dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil. Sumiati, warga Rt 04 Malinau Kota, yang menjalankan usaha makanan rumahan, menyampaikan bahwa harga bawang yang tinggi sangat berdampak pada pengeluaran harian mereka.

"Kalau untuk yang usaha kecil, apalagi yang pas-pasan, kenaikan harga ini terasa sekali. Modal jadi lebih besar, sementara harga jual tidak bisa dinaikkan banyak," ungkap Sumiati.

Di sisi lain, Pandu, manajer sebuah usaha makanan cepat saji di Malinau, mengaku dampaknya tetap terasa, namun tidak separah saat momen Hari Raya lalu.

"Memang terasa, tapi tidak seberat waktu lebaran kemarin. Kami masih bisa aturlah stok untuk semua menu dan varian sambal bawangnya," kata Pandu.

Pedagang dan pelaku usaha berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah agar harga kembali stabil, sehingga masyarakat tidak semakin terbebani dan kegiatan usaha tetap bisa berjalan normal. (*dip)

Editor : Azwar Halim
#bawang merah #malinau