AGUSSALAM SANIP
KEMBALI ke soal migrasinya keluarga besar Samuel Tipa Padan dari Krayan ke Malinau dan tempat lainnya mengejar pendidikan, Yansen menegaskan bahwa itu berangkat dari kesadaran orangtuanya tentang pentingnya pendidikan.
Ayahnya melihat ketika orang datang ke kampungnya terasa beda dengan ia dan keluarga serta orang di kampungnya. Orang yang datang dari punya pendidikan yang lebih baik, karena itulah sangat penting menurutnya keluarga mendapat pendidikan yang lebih baik. “Lalu ayah mau juga (pendidikan tinggi). Jadi itu yang sebenarnya menggoda dia. Kalau saya masih di sini, anak-anak saya pasti akan tidak jadi (orang besar),” ucap ayahnya menyampaikan kepada anaknya.
Karena kesadaran ayahnya bahwa pendidikan itu penting membuat dia harus berani berkorban membawa keluarga migrasi dari Krayan keluar pada tahun 1970. Yansen yang waktu itu masih kecil mengaku sebenarnya tidak pernah mengetahui rencana ayahnya itu.
Tiba-tiba saja ayahnya mengajak pindah pada tahun 1970 itu ke Malinau. Sebenarnya, keinginan ayahnya pada wakt itu bukan pindah ke Malinau, tapi ke Bengalun, wilayah Kabupaten Tana Tidung. Namun karena ayahnya seorang guru, tidak mungkin pindah ke sana.
Lalu pindah dan menetaplah di Tanjung Lapang dan mengajar. Kemudian Yansen kecil bersama kakaknya dan adiknya sekolah selama tiga tahun di Malinau dan kemudian pindah lagi ke Tarakan karena kakaknya harus sudah masuk sekolah menengah atas.
Karena dua orang kakaknya sekolah di Tarakan, ayahnya pun berpikir bagaimana membiayai dua anaknya itu di Tarakan, karena itulah ayahnya memboyong keluarga lagi pindah ke Tarakan. “Akhirnya dia mengambil keputusan pindah. Saya ingat betul biar satu piring kita makan tidak apa-apa yang penting kita makan sama-sama,” kenangnya saat ia dan keluarganya pindah ke Tarakan yang mana tujuannya itu supaya kakaknya tertolong.
Kalau bicara tentang perjuangan ayahnya, kalau diceritakan sepertinya melebih-lebihkan. Tapi itulah yang ia alami langsung bersama saudara-saudaranya. Setiap bulan, ayahnya mengumpulkan anak-anaknya seperti rapat. Ayahnya sengaja memperlihatkan jumlah gaji yang diterima dan membuat daftar pengeluaran agar anak-anaknya tahu dan paham tentang keadaan ekonomi keluarga.
“Dia tulis gaji bapak sekian ribu, sabun sekian, garam sekian, ini dan itu sekian, sisa sekian. Tidak cukup. Kita harus kerja,” katanya menirukan apa yang ayahnya katakan.
Sehingga, ia bersama kakak dan adik-adiknya pun turut bekerja berkebun dan sebagainya. Kemudian mendapat gaji. Ayahnya juga membuatkan tabungan. “Selesai kami panen, dia kumpul. Ini sisa (uang pengeluaran), ini kamu sekian dan sekian. Ada tabungan kayu dibuatnya. Ini kamu punya dan ini kamu punya. Diajarkannya juga berinvestasi,” cerita Yansen yang saat menceritakan tampak tegar namun tetap ada rasa menahan haru.
Setelah menempuh pendidikan hingga Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Tarakan yang kini bernama Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Tarakan, Yansen berangkat ke Samarinda untuk kuliah, kemudian disusul adiknya, Tirusel dan Samuel.
Karena itu, ayahnya kembali berpikir untuk pindah bersama keluarga ke Samarinda dan menyuruh adik ayahnya membuka lahan di Samarinda tahun 1986. Ayahnya pensiun tahun 1991 dan ke Samarinda. Namun saat itu ayahnya dirawat di rumah sakit dan Tuhan memanggilnya. “Dia suruh adiknya mendahului ke sana untuk membuka lahan. Ada kebun saya di sana itu. Tapi ketika dia pensiun, tahun dan bulan dia pensiun langsung masuk rumah sakit. Tetap pindah ke Samarinda, tapi meninggal di Samarinda,” ungkapnya sedih.
Walaupun bukan pindah ke Samarinda, tapi tetap dirasa Yansen ayahnya pindah karena sempat tinggal dirawat di rumah sakit dan meninggal dunia di Samarinda.
Perjuangan ayahnya itu ia sangat ingat karena ayahnya hanya bisa berbuat dengan modal yang ada pada dia. Jadi tidak ada usaha, memang betul-betul hanya sebagai guru.
Waktu di Tarakan, ia tinggal di Strat Buntu yang merupakan daerah pesisir laut. Ada gundukan-gundukan tanah untuk kepiting bersarang, itulah yang mereka timbun hingga tinggi dan menaruh tanah subur di atasnya. Kemudian memelihara ayam dan kotorannya membuat tanah tambah subur sehingga jadi media tanam sayur dan buah-buahan. “Kami timbun tinggi baru ambil tanah subur, pelihara ayam di situ dan kotorannya membuat subur, kami tanam sayur dan itulah pasar kami. Ayam ada, sayur-sayur ada. Berkebun di laut itu. Saking ayah mencari solusi untuk hidup,” katanya.
Soal sesuatu yang paling berkesan dan membekas dari ayahnya, Yansen mengaku kalau dikatakan satu hal saja mungkin kurang, karena terlalu banyak. Karena, ketika itu mungkin dirinya tidak merasa penyampaian atau tindakan ayahnya itu sebuah didikan. Tapi ketika saat menjalani hidup saat ini baru ia sadar bahwa baru orangtuanya betul-betul membentuk ia dan saudara-saudaranya. “Dia tanamkan dalam hati dan pikiran kami tidak sekadar menjadi orang tua, tapi dia memang menyiapkan kami. Itu yang membuat terharunya saya,” ucapnya.
Dulu, ayahnya sempat membuatkan tulisan untuk sambutan dan menyampaikan bahwa begini dan begitu nanti kamu sambutan. Padahal, kata Yansen, dirinya sama sekali tidak ada pikiran sambutan di mana seperti saat puluhan tahun sudah menjabat dalam dunia birokrasi, mulai jadi camat, kepala dinas, sekretaris daerah hingga jadi kepala daerah. “Tapi dia sudah bentuk kami. Itu kesan pertama yang menurut saya jarang orang tua yang punya konsep begitu walaupun orang tua loh ya. Sampai detail dia membentuk kita. Itu dilakukan mungkin saja karena dia guru ya. Jadi pikirannya selalu ke SDM (sumber daya manusia),” ujarnya.
Sedangkan hal yang berkesan lain-lainnya, apa yang diucapkan, itulah betul-betul sebuah konsep hidup. Seperti jangan tanya-tanya, kalau tahu, kerjakan. Jadi ia menegaskan agar tidak hanya tahu dan bisa mengerjakan saja, tapi harus bisa menjadikan.
Nah itu yang menjadi filosofi yang sering Yansen sampaikan, yaitu “Saya ada untuk semua, bersama kita pasti bisa. Terus bersemangat dan bekerja sama.”
“Karena hidup itu harus berdampak. Tidak boleh tidak. Nah untuk berguna harus belajar. Dia selalu mengajar begitu. Itu menurut saya pesan orang tua punya tanggung jawab pada anak-anaknya,” bangganya sambil menyebut Ayahnya lahir di Binuang, Krayan Tengah, Nunukan, tahun 1932.
Terakhir, ada yang menjadi catatan tersendiri bagi seorang Yansen dari ayahnya. Ayahnya bangga jika cucu-cucunya berhasil. Jadi tidak hanya anaknya. “Saya pikir mungkin lepas dari pandangan orang, saya bangga bukan karena kau berhasil. Tapi saya menjadi bangga kalau kau bisa menjadikan cucu-cucu saya berhasil. Itu baru saya bangga sama kamu,” Yansen kembali menirukan petuah ayahnya.
Hari ini merupakan peringatan Hari Pahlawan dan tahun ini bertemakan ‘Pahlawanku Teladanku’ dan lusa juga merupakan hari ayah. Pantas bagi penulis menyematkan ayah dari Yansen TP, yaitu Samuel Tipa Padan sebagai pahlawan keluarga yang perlu diteladani. Selamat Hari Pahlawan dan selamat Hari Ayah. (***/lim) Editor : Azwar Halim