JAKARTA – Proyeksi inflasi biaya kesehatan di Indonesia yang diperkirakan mencapai 15,1 persen pada 2026 mendorong perusahaan untuk mencari strategi baru dalam mengelola kesehatan karyawan. Halodoc menilai pendekatan berbasis data menjadi langkah penting agar perusahaan mampu menjaga produktivitas tenaga kerja sekaligus mengendalikan pengeluaran kesehatan.
Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria, mengatakan banyak perusahaan masih menerapkan pengelolaan kesehatan secara reaktif tanpa memiliki gambaran yang jelas mengenai kondisi kesehatan para pekerjanya. Melalui Indonesia Health Benefit Insights Report 2026, perusahaan diharapkan dapat memahami profil kesehatan karyawan sehingga kebijakan yang diambil lebih tepat sasaran.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa kendala utama dalam layanan kesehatan pekerja bukan hanya soal kesadaran, melainkan kemudahan akses. Banyak karyawan menunda berobat karena proses layanan yang dianggap rumit, sehingga keluhan ringan berpotensi berkembang menjadi penyakit yang lebih serius dan membutuhkan biaya penanganan lebih besar.
Chief of Medical Halodoc, dr. Irwan Heriyanto, mengungkapkan analisis terhadap lebih dari 1 juta transaksi kesehatan di ekosistem Halodoc menunjukkan pola penyakit yang berbeda pada setiap kelompok usia. Pekerja usia muda didominasi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), kelompok usia produktif lebih banyak mengalami gangguan muskuloskeletal, sedangkan usia di atas 50 tahun didominasi penyakit kardiovaskular dan kanker.
Temuan lainnya memperlihatkan adanya perbedaan berdasarkan gender. Sebagian besar pasien penyakit kardiovaskular merupakan laki-laki, sementara mayoritas pasien kanker adalah perempuan. Hal tersebut dinilai penting sebagai dasar penyusunan program skrining kesehatan yang lebih spesifik bagi setiap kelompok pekerja.
Halodoc juga menyoroti efektivitas layanan telemedicine atau Digital Cashless Outpatient (DCO). Berdasarkan data perusahaan, layanan digital mampu menangani sekitar 24 persen kasus kesehatan dengan hanya menyerap 8 persen total biaya kesehatan, serta menyelesaikan lebih dari 95 persen kasus tanpa memerlukan kunjungan lanjutan ke fasilitas kesehatan dalam waktu 30 hari.
Selain mempercepat akses layanan, penggunaan telemedicine pada pasien penyakit kronis disebut mampu menekan biaya perawatan hingga 66,4 persen dalam 90 hari dibandingkan pasien yang tidak memanfaatkan layanan digital. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi kesehatan dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan efisiensi biaya sekaligus menjaga produktivitas tenaga kerja.
Editor : Rahul