0 Kaltara Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

Prof ITB: Belum Ada Bukti Klinis Galon Polikarbonat Sebabkan Gangguan Hormon dan Kanker

Rahul • Selasa, 14 Juli 2026 | 07:57 WIB
Ilustrasi galon guna ulang. (Istimewa)
Ilustrasi galon guna ulang. (Istimewa)

Guru Besar Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Johnner Sitompul, menegaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat bukti klinis yang menunjukkan bahwa paparan Bisphenol A (BPA) dari galon berbahan polikarbonat (PC) secara langsung menyebabkan gangguan hormon, masalah reproduksi, maupun kanker pada manusia.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami perbedaan antara BPA sebagai senyawa kimia murni dan BPA yang telah menjadi bagian dari struktur plastik polikarbonat. Dalam proses pembentukan polikarbonat, BPA mengalami reaksi kimia sehingga menjadi bagian dari material yang memiliki ikatan kuat dan stabil.

Johnner menjelaskan bahwa kemungkinan BPA berpindah ke dalam air minum dari galon polikarbonat tergolong sangat kecil, terutama ketika digunakan dalam kondisi normal. Selain dikenal tahan panas, polikarbonat juga banyak dimanfaatkan sebagai kemasan guna ulang karena dinilai lebih ramah lingkungan.

Ia menilai sebagian besar penelitian yang berkembang saat ini lebih banyak membahas dampak BPA sebagai zat tunggal, seperti potensi pengaruhnya terhadap hormon, obesitas, atau kesehatan bayi. Namun, penelitian tersebut tidak secara khusus meneliti polikarbonat yang digunakan sebagai wadah air minum.

Menurut Johnner, hingga kini belum ada penelitian yang dapat membuktikan bahwa polikarbonat pada galon air mampu terurai kembali menjadi BPA hanya karena bersentuhan dengan air. Hal ini disebabkan polikarbonat terbentuk melalui proses polimerisasi yang menghasilkan material dengan struktur kuat dan tidak mudah rusak.

Ia menambahkan bahwa polimer memiliki karakteristik berbeda dengan senyawa awal pembentuknya. Setelah melalui reaksi kimia, material tersebut menjadi senyawa baru yang lebih stabil sehingga tidak dapat disamakan dengan BPA dalam bentuk monomer.

Editor : Rahul
tarakan kaltara