Anggapan bahwa anak berisiko mengalami paru-paru basah akibat tidur dengan pendingin ruangan (AC) atau kipas angin masih sering beredar di masyarakat. Padahal, secara medis, anggapan tersebut tidak benar.
Dokter Spesialis Anak, dr. Abdurrahman Hasanuddin, Sp.A, menjelaskan bahwa paru-paru basah atau pneumonia merupakan infeksi yang menyerang jaringan paru-paru. Kondisi ini menyebabkan kantung udara di paru terisi cairan atau nanah sehingga mengganggu proses pernapasan.
Menurut dr. Abdurrahman, pneumonia disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau jamur, bukan karena paparan udara dingin dari AC maupun kipas angin.
Ia menerangkan, udara dingin memang dapat membuat saluran pernapasan menjadi lebih kering. Pada sebagian anak yang memiliki riwayat alergi atau asma, kondisi tersebut dapat memicu gejala seperti batuk, bersin, atau hidung tersumbat.
Meski demikian, keluhan tersebut bukan merupakan tanda pneumonia, melainkan reaksi saluran napas yang lebih sensitif terhadap udara dingin.
Karena itu, orang tua tidak perlu khawatir membiarkan anak tidur menggunakan AC selama penggunaannya dilakukan dengan tepat. Suhu ruangan disarankan berada di kisaran 24–26 derajat Celsius, hembusan angin tidak diarahkan langsung ke tubuh anak, dan filter AC dibersihkan secara berkala agar kualitas udara tetap terjaga.
Dr. Abdurrahman juga mengimbau orang tua untuk segera memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami batuk yang disertai sesak napas, napas cepat, atau napas terasa berat. Pemeriksaan oleh tenaga medis penting dilakukan untuk memastikan penyebab keluhan sehingga penanganan yang diberikan sesuai dengan kondisi anak.
Editor : Rahul