Adv Balikpapan Berau Berita Kontrak Bulungan Catatan Daerah Event Film & Drama Gadget Hukum & Kriminal Kaltara Kaltim Kesehatan Lapsus Malinau Nasional Nunukan Olahraga Opini Pemerintahan Pola Hidup Politik Radar Nusantara Selebritis Tana Tidung Tarakan Teknologi Wisata & Kuliner Zodiak

KESEHATAN, IDAI Sebut 10 Anak Jalani Cuci Darah

Radar Tarakan • Rabu, 14 Agustus 2024 | 09:10 WIB
BUTUH PERHATIAN: Melly (kanan) dan Daud (kiri) mendampingi anaknya yang mengidap penyakit gagal ginjal di Rumah Singgah Rumahku beberapa waktu lalu. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)
BUTUH PERHATIAN: Melly (kanan) dan Daud (kiri) mendampingi anaknya yang mengidap penyakit gagal ginjal di Rumah Singgah Rumahku beberapa waktu lalu. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)

KASUS anak menderita gagal ginjal kronis (GGK) yang mengharuskan menjalani terapi hemodialisis alias cuci darah kini ramai diperbincangkan.

Berdasar data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Timur (Jatim), terdapat 8–10 anak yang melakukan cuci darah karena ginjalnya tidak lagi bisa berfungsi dengan baik.

Ketua IDAI Jatim dr Sjamsul Arief SpA(K) mengatakan, ada banyak penyebab anak menderita gagal ginjal kronis. ”Karena infeksi, sindrom nefrotik, dan lupus,” jelasnya kemarin (11/8).

Penyebab lainnya, kata Sjamsul, adalah anak yang menderita diare hingga dehidrasi berat, penyakit jantung, dan menderita kelainan bawaan. Persentasenya mencapai 80 persen. ”Memang sudah ada kelainan bawaan sejak kecil,” ungkapnya.

 Baca Juga: Program ‘Dokter Terbang’ Masih PrioritasBaca Juga: Program ‘Dokter Terbang’ Masih Prioritas

Belakangan, faktor gaya hidup juga menjadi pemicu anak menderita gagal ginjal. Misalnya, mengonsumsi mi instan hingga minuman instan saset sejak kecil. ”Mi instan itu kan kandungan garamnya tinggi. Kalau terlalu sering, itu tidak baik untuk ginjal,” papar Sjamsul.

Menurut dokter spesialis anak itu, konsumsi mi instan harus dibatasi. Bukan berarti anak tidak diperbolehkan makan mi instan.

Satu bungkus dalam sebulan misalnya. ”Jangan sering-sering, minuman saset itu juga ada batasnya,” terangnya.

Dari pengalaman Sjamsul, dirinya pernah mendapati ada anak yang konsumsi minuman saset hingga empat bungkus dalam sehari.

Sementara pada minuman saset itu terkandung kadar gula tinggi dan bahan pengawet yang tidak baik dikonsumsi bila terlalu sering.

”Kalau mau minum kopi, ya lebih baik kopi hitam daripada yang saset instan itu,” imbuhnya.

Sjamsul mengimbau masyarakat untuk membiasakan minum air putih sesuai dengan kebutuhan tubuh. Konsumsi air putih yang cukup akan menyehatkan tubuh. Juga menghindari dehidrasi.

Pada kasus anak-anak yang mengalami gagal ginjal karena gaya hidup, lanjut Sjamsul, peran orang tua atau orang dewasa di sekitarnya sangat penting.

 Baca Juga: Gegara Hutang, TKA yang Bekerja di KIHI Bulungan Dikeroyok

’’Dengan memperhatikan kebutuhan cairan anak, makanan yang dikonsumsi tidak terlalu banyak yang manis-manis atau mengandung garam,’’ katanya. (ann/c6/aph/jpg/har)

Editor : Azwar Halim
#gagal ginjal kronis #kasus #kesehatan #jatim #idai