Mimpi besar agar film karya anak-anak Balikpapan bisa diputar di bioskop kota sendiri mulai menemukan jalannya.
Bukan sekadar diputar di festival atau acara komunitas, kini ada dorongan serius agar sineas lokal naik kelas dan bersaing di ruang-ruang pemutaran film komersial.
GELIAT perfilman lokal di Kota Minyak tak lagi sebatas semangat komunitas.
Dukungan dari pemerintah daerah, khususnya melalui Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disparpora) Balikpapan mulai diarahkan untuk memperkuat ekosistem industri film yang mandiri, kolaboratif, dan berbasis budaya lokal.
“Balikpapan Film Festival bukan hanya milik para pelaku film, tapi milik kita bersama untuk mengangkat citra kota ini melalui media visual yang kuat dan menyentuh,”
tutur Kepala Disparpora Balikpapan Ratih Kusuma pada kegiatan Ayo Ngobrol Film, di Kopi Bang Hotman Balikpapan, Kamis (15/5).
Disampaikan pula oleh Ratih, bahwa festival yang akan segera digelar ini bukan sekadar ajang pemutaran, melainkan ruang temu lintas sektor yang membuka peluang kolaborasi baik lokal, nasional, maupun internasional.
“Kami ingin menjajaki kolaborasi, baik di level lokal, nasional, maupun internasional. Dengan adanya kegiatan seperti ini, kami mengajak semua pihak untuk siap berkarya bersama. Ini juga menjadi sinyal bahwa anak-anak Balikpapan siap menunjukkan potensinya,” lanjut Ratih.
Salah satu fokus ke depan adalah mendorong hasil karya lokal agar bisa tayang tidak hanya di platform digital, tetapi juga di jaringan bioskop di Balikpapan.
Menurutnya, apresiasi tidak hanya datang dari seleksi festival, tetapi juga dari bagaimana publik kota sendiri bisa menonton dan mendukung karya anak daerah.
“Film tidak harus besar. Tapi cukup orisinal, menyentuh, dan punya identitas. Itu yang kami dorong,” tambah Ratih.
Dirinya juga menyebutkan, telah ada sejumlah film lokal sudah menembus panggung nasional dan internasional, seperti Save Mangrove yang tayang di Prancis, juga ada Ikhlas serta Septia yang telah ditayangkan secara nasional.
Ratih juga menekankan pentingnya eksplorasi narasi lokal sebagai kekuatan utama perfilman Balikpapan.
“Kisah lahirnya Balikpapan dari sudut pandang budaya pesisir bisa jadi cerita menarik. Ini bukan hanya tentang tarian atau pertunjukan, tapi bagaimana kita mengarsipkan identitas kota lewat film,” ucap Ratih.
Di sisi lain, para sineas, musisi, dan pelaku kreatif lokal pun mulai menjalin kerja sama dan membentuk grup kolaboratif lintas bidang.
Mereka tidak hanya memproduksi film, tetapi juga menyusun strategi advokasi kebijakan serta pengembangan jaringan pendanaan dan distribusi. Disparpora pun membuka diri untuk diskusi terbuka bersama komunitas film.
“Kami sangat mendukung dunia perfilman, khususnya di Balikpapan. Ini menjadi wadah untuk menampung masukan dan ide-ide segar dari para sineas muda Balikpapan,” tutur Ratih.
Perum Produksi Film Negara (PFN) tengah mengupayakan penguatan ekosistem perfilman nasional dengan sejumlah inisiatif strategis.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah pengembangan pustaka naskah nasional atau library scripting, sebagai wadah pengembangan ide cerita bagi sineas muda.
Hal ini disampaikan langsung oleh Komisaris Utama PFN Yessy Gusman dalam kunjungan ke Balikpapan dan menghadiri kegiatan Ayo Ngobrol Film, di Kopi Bang Hotman Balikpapan, Kamis (15/5).
Yessy menegaskan pentingnya memberikan ruang dan dukungan yang lebih besar bagi generasi muda agar bisa berkontribusi dalam industri perfilman nasional.
“Kita sedang bangun pustaka naskah nasional, agar para sineas muda bisa punya tempat untuk mengembangkan ide cerita yang otentik, punya nilai, dan bisa dikembangkan lebih lanjut,” ungkap Yessy.
Ia menilai, meskipun jumlah produksi film Indonesia meningkat dalam beberapa tahun terakhir, peningkatan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kualitas isi dan nilai karakter yang kuat dalam cerita.
“Masalah film Indonesia itu lumayan banyak. Sekarang memang semakin banyak pilihan, tapi tidak semuanya menampilkan nilai karakter yang baik. Kita punya anak-anak bangsa yang harus dijaga,” tegasnya.
PFN, kata Yessy, tidak hanya fokus pada produksi film, tetapi juga berupaya menciptakan ekosistem yang lebih inklusif, terutama bagi sineas muda yang sering kali terkendala akses pendanaan.
Menurutnya, banyak ide cerita potensial yang gagal diwujudkan karena hambatan finansial.
“Saya pikir sineas muda ini justru yang banyak punya bakat. Tapi modalnya kurang. Padahal mungkin filmnya bagus. Kesempatan itu yang harus dibuka,” kata Yessy.
Dalam kesempatan tersebut, Yessy juga menyampaikan apresiasinya kepada Aqila Nayyara Zake Anwar, seorang pelajar SMP asal Balikpapan. Ia menyebut Aqila sebagai contoh inspiratif bahwa proses berkarya dalam perfilman adalah proses pembelajaran berkelanjutan.
“Membuat film itu proses belajar. Mungkin film ke-10 akan jauh lebih baik. Hanya jam terbang yang bisa meningkatkan kualitas karya,” katanya memberikan semangat.
Yessy juga mengajak para pembuat film untuk mengeksplorasi narasi lokal sebagai kekuatan utama film Indonesia.
Cerita dari berbagai daerah, menurutnya, bisa menjadi warna tersendiri yang tak dimiliki film-film luar negeri.
Dengan berbagai inisiatif yang tengah dikembangkan, PFN berharap Indonesia tak hanya jadi pasar film, tetapi juga menjadi penghasil karya-karya bermutu yang berakar pada kekayaan budaya lokal.
“Saya ingin lihat film dengan latar belakang kehidupan petani lada, kehidupan di sungai, di hutan. Itu akan memberi warna tersendiri. Kita tidak perlu bersaing dengan film modern dari luar negeri,” pungkasnya.
Baca Juga: Tips Aman Membawa Barang dengan Sepeda Motor
Dukungan pada dunia film lokal juga diberikan pemilik Kopi Hotman, Anwar Sadat dan Yunita Indarini yang membuka ruang kreatif bagi komunitas film. (ndu/jnr)
Editor : Azwar Halim