TANJUNG REDEB – Sekretaris Dinas Perikanan (Diskan) Berau, Yunda Zuliarsih, mengakui bahwa masih banyak kendala yang dihadapi para petambak di Kabupaten Berau, dalam upaya ekspor hasil tambak.
Bahkan, menurutnya ada tambak yang belum memenuhi syarat sertifikasi layak ekspor. Untuk mendapatkan sertifikasi layak ekspor setiap tambak harus memiliki luas tidak lebih dari dua hektare, menggunakan pupuk dan obat-obatan yang ramah lingkungan serta memiliki usia telah ditentukan.
"Jika persyaratan tersebut terpenuhi, maka sertifikat layak ekspor bisa didapatkan, sehingga hasil tambak kita bisa diterima di pasar nasional," ujarnya kepada awak media.
Menurut Yunda, Berau memiliki program tambak secure yang saat ini dilaksanakan di Kampung Pegat Batumbuk, Tabalar Muara, dan Suaran. Program ini fokus pada budidaya udang windu dengan sistem silvofishery, yakni menggabungkan tambak dengan ekosistem mangrove.
"80 persen mangrove 20 persen tambak, jadi dia langsung mendapatkan nutrisi makanan dari mangrove," bebernya.
"Dari metode ini yaitu setiap dua atau tiga bulan panen hasilnya dua kali lebih banyak dari yang biasa," sambungnya.
Dikatakan Yunda, Program Tambak Secure ini merupakan hasil kerja sama antara pemerintah daerah dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).
"Sebab pemerintah tidak dapat menjalankan program ini sendirian karena keterbatasan anggaran, sarana, dan sumber daya manusia (SDM)-nya," ucapnya.
Kemudian, ia juga menyebutkan tambak High-Density Polyethylene (HDPE). Dimana, tambak HDPE lebih menekankan pada ekosistem atau habitat yang ramah lingkungan, dan tidak berada di kawasan hutan atau konservasi.
"Nah kalau memang itu semua bisa terpenuhi baru kita bisa ekpor dan diterima di pasar nasional," tuturnya.
Selain itu, pihaknya juga mengharapkan komoditi lain, seperti lobster. Namun yang menjadi tantangan saat ini adalah keterbatasan sumber benih.
"Lobster itu tidak bisa dibudidayakan atau dipelihara sendiri, dia harus ditangkap dari alam dan dibesarkan di dalam keramba," bebernya.
Saat ini, lobster banyak ditemukan di Pulau Balikukup dan Derawan, namun kuota tangkapnya belum mencukupi kebutuhan ekspor.
"Jadi yang saat ini bisa hanya kerapu, namun untuk yang berpotensi selanjutnya yaitu udang windu dan lobster," pungkasnya. (aky/hmd/jnr)
Editor : Azwar Halim