SAMARINDA – Samin, warga Jalan Gerilya, Gang Sepakat 13, RT 16, Kelurahan Sungai Pinang Dalam, Kecamatan Sungai Pinang, terpaksa membongkar rumahnya sendiri pada Rabu (22/1).
Langkah itu diambil pria berusia 58 tahun ini demi mencegah dampak lebih buruk akibat pergeseran tanah yang melanda wilayah tersebut.
Samin menjelaskan, pergeseran tanah yang terjadi di lingkungannya diduga kuat dipicu oleh rembesan air dari pembuangan tanah proyek pembangunan jalan tembusan.
Proyek tersebut menghubungkan Jalan Merdeka di Kecamatan Sungai Pinang dengan Jalan Pelita di Kecamatan Sambutan.
“Tanah ini mulai bergeser perlahan sejak 2023, tapi lama-kelamaan semakin parah. Ada jalur air dari bukit yang rembes ke bawah. Kami menduga ini akibat pembuangan tanah dari proyek jalan tembusan,” ujar Samin yang didampingi beberapa warga lainnya.
Rumah Samin sebenarnya baru selesai direnovasi pada 2022. Namun, keretakan mulai terlihat setahun kemudian. Awalnya, ia mengira keretakan itu disebabkan kualitas bahan bangunan. Namun, seiring berjalannya waktu, pergeseran tanah menjadi penyebab utamanya.
“Saat ini tanah sudah bergeser hingga 4 meter. Awalnya hanya rumah saya yang terdampak, tapi sekarang sudah ada empat rumah warga lainnya yang terkena imbasnya,” katanya.
Langkah membongkar rumah diambil Samin untuk mencegah kerusakan lebih luas. Jika dibiarkan, dikhawatirkan rumah tersebut akan roboh dan merusak bangunan di sekitarnya.
“Ini satu-satunya solusi. Kalau dibiarkan, rumah saya bisa roboh dan membahayakan rumah lainnya,” ujarnya pasrah.
Akibat pergeseran tanah ini, empat kepala keluarga dengan total 12 jiwa terpaksa mengungsi. Sebagian, seperti Samin, memilih tinggal sementara di rumah kerabat di sekitar Jalan Gerilya. Namun, belum semua warga memiliki solusi tempat tinggal yang pasti.
“Saat ini saya tinggal di rumah keluarga. Tapi saya belum tahu bagaimana dengan warga lain, apakah tinggal di rumah kerabat atau harus mencari kos,” ungkapnya.
Sebagai seorang penjual ayam dan bebek, Samin berharap ada bantuan dari pemerintah untuk mengatasi masalah ini.
Hingga kini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda telah meninjau lokasi dan menjanjikan bantuan. Namun, belum ada informasi lagi mengenai bentuk bantuannya.
“Kami hanya berharap ada akses jalur air yang dibuat untuk mencegah masalah ini terulang. Yang terpenting, kami ingin hidup aman dan tenang,” tutupnya. (kpg/jnr)
Editor : Azwar Halim