Transportasi dan Perawatan Pribadi Jadi Pemicu Terbesar Inflasi Kaltara

Iwan RT • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 03:47 WIB
PENILAIAN STATISTIK: Angkutan udara menjadi salah satu penyebab naiknya inflasi di Kaltara pada September 2026. FOTO: DOK WARGA
PENILAIAN STATISTIK: Angkutan udara menjadi salah satu penyebab naiknya inflasi di Kaltara pada September 2026. FOTO: DOK WARGA

TANJUNG SELOR - Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara (Kaltara) mencatat terjadi inflasi secara tahunan atau y-on-y sebesar 2,56 persen pada September 2026. Angka ini menunjukkan telah terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 107,65 pada September 2025 menjadi 110,41 pada September 2026.

 

Kepala BPS Kaltara, Mustaqim mengatakan, inflasi tahunan yang terjadi pada September 2026 ini terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran. "Transportasi serta perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi pemicu terbesar inflasi secara y-on-y di Kaltara dengan andil masing-masing 5,86 persen dan 6,87 persen," ujar Mustaqim.

 

Selain kelompok transportasi serta perawatan pribadi dan jasa lainnya, juga ada beberapa kelompok pengeluaran lainnya yang menjadi penyumbang inflasi tahunan di provinsi ke-34 Indonesia ini.

 

Mulai dari kelompok makanan, minuman dan tembakau 1,84 persen, kelompok pakaian dan alas kaki 0,62 persen, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 0,92 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 2,45 persen, kelompok kesehatan 2,14 persen.

 

Kemudian, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,60 persen, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya 0,83 persen, kelompok pendidikan 0,49 persen, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman 3,95 persen.

 

"Komoditas yang dominan menyumbang inflasi y-on-y pada September 2026, di antaranya emas perhiasan, tarif angkutan udara, cabai rawit, nasi dengan lauk, beras, bensin, air kemasan, sepeda motor dan minyak goreng," bebernya.

 

Sedangkan komoditas menyumbang deflasi, di antaranya tomat, bawang merah, bayam, telur ayam ras, ikan bandeng, terong, udang basah, pembersih lantai dan baju kaos tanpa kerah.

 

Ia juga membeberkan bahwa pada September 2026, kelompok pengeluaran yang memberikan andil sumbangan inflasi secara y-on-y, di antaranya kelompok makanan, minuman dan tembakau 0,59 persen, kelompok transportasi 0,69 persen, serta kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,04 persen. (iwk)

Editor : Azward Halim
kaltara