TANJUNG SELOR – Kualitas udara di Tanjung Selor Ibu Kota Kalimantan Utara (Kaltara) yang saat ini dalam kondisi tidak sehat menjadi perhatian serius sejumlah pihak, tak terkecuali dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara.
Berdasarkan grafik pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tanjung Harapan menggunakan alat PM 2.5 pada Selasa (8/9), kualitas udara di wilayah Tanjung Selor pada pukul 12.00 berada pada nilai konsentrasi 54.3 µ/m3.
Ini berdampak terhadap kesehatan, yang mana partikel dengan diameter lebih kecil dari 2,5 µg/m³ sangat mudah menembus saluran pernapasan dalam hingga masuk ke sistem peredaran darah, yang memicu iritasi saluran pernapasan, hingga Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Menyikapi hal itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kaltara mengimbau kepada masyarakat agar dapat membatasi aktivitas di luar ruangan hingga setop melakukan pembakaran terbuka.
“Untuk aktivitas di luar ruangan, kurangi olahraga berat atau kegiatan fisik di luar ruangan, terutama pada rentang jam dengan kategori kualitas udara tidak sehat,” ujar Kepala DLH Kaltara, Hairul Anwar kepada Radar Tarakan, Selasa (8/9).
Jikapun harus beraktivitas di luar ruangan, gunakan masker standar respirator jenis N95, KN95 atau KF94 yang memiliki efisiensi filtrasi terhadap partikel halus micro-meter. Termasuk proteksi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, wanita hamil, serta individu dengan riwayat asma atau ISPA.
“Kategori kelompok rentan ini sangat disarankan untuk tetap berada di dalam ruangan,” tuturnya.
Lebih dari itu, untuk manajemen kualitas udara dalam ruangan juga menjadi atensi, seperti menutup jendela dan ventilasi rumah pada dini hari hingga pagi hari untuk mencegah masuknya partikulat dari luar, serta gunakan air purifier jika memungkinkan.
“Hal yang tak kalah pentingnya, setop pembakaran terbuka (open burning). Hindari pembakaran sampah atau lahan secara terbuka yang dapat memperburuk akumulasi polutan lokal di sekitar pemukiman,” pungkasnya. (iwk)
Editor : Azward Halim